Pintasan.co, Jakarta – Sekolah Rakyat dapat dipandang sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan yang berupaya menyediakan akses belajar bagi masyarakat yang kurang mampu atau tinggal di daerah terpencil.

Konsep ini telah dikenal di Indonesia sejak masa kolonial Belanda dan awal kemerdekaan, ketika pendidikan dasar mengalami perkembangan dari Sekolah Desa (Volkschool) menjadi Sekolah Rakyat (SR) dengan sistem pembelajaran enam tahun.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1965, SR mengalami perubahan nama menjadi Sekolah Dasar (SD) sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Sekolah Rakyat umumnya dikenal memiliki kurikulum yang lebih fleksibel, biaya yang rendah atau gratis, serta berlandaskan semangat gotong royong dengan dukungan komunitas dan tenaga pendidik sukarela.

Hingga saat ini, gagasan Sekolah Rakyat masih relevan dan banyak diadaptasi dalam bentuk sekolah alternatif serta pendidikan non-formal yang membantu anak-anak putus sekolah maupun kelompok masyarakat marjinal.

Di Indonesia, inisiatif seperti Sekolah Master Depok dan Sekolah Darurat Kartini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat tetap dijangkau oleh mereka yang tidak memiliki akses ke sistem sekolah formal.

Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto dapat dilihat sebagai langkah strategis dalam upaya meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan miskin ekstrem.

Dengan konsep sekolah berasrama yang mencakup jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), program ini bertujuan tidak hanya memberikan pendidikan formal, tetapi juga membentuk karakter peserta didik serta memastikan pemenuhan kebutuhan gizi mereka.

Pemerintah menargetkan pembangunan 200 Sekolah Rakyat per tahun dengan harapan setiap kabupaten dapat memiliki setidaknya satu sekolah dalam lima tahun ke depan, terutama di daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi.

Langkah awal dari program ini adalah peresmian 53 sekolah pertama dalam waktu dekat, dengan memanfaatkan gedung milik Kementerian Sosial yang akan direnovasi. Selain itu, pelaksanaan program ini melibatkan beberapa kementerian terkait untuk memastikan implementasi berjalan sesuai rencana.

Agar program ini dapat menjangkau kelompok yang benar-benar membutuhkan, pemerintah akan melakukan pemetaan lokasi dan memastikan Sekolah Rakyat tidak menggantikan sekolah yang sudah ada. Seleksi peserta didik akan berbasis pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar bantuan pendidikan ini dapat diberikan secara tepat sasaran.

Baca Juga :  Jokowi: Prabowo Menuju Pembentukan Angkatan Siber TNI

Secara umum, program ini dipandang sebagai salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan akses pendidikan dan kesenjangan ekonomi. Dengan memberikan pendidikan yang layak dan berkualitas, Sekolah Rakyat diharapkan mampu membuka peluang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, sekaligus menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam memutus rantai kemiskinan.

Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto memberikan dampak positif dalam meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan daerah terpencil.

Dengan konsep sekolah berasrama yang menyediakan pendidikan, makanan, dan tempat tinggal gratis, program ini berkontribusi dalam menekan angka putus sekolah serta memastikan peserta didik memperoleh pembinaan karakter dan keterampilan yang meningkatkan daya saing mereka di masa depan.

Selain itu, program ini membantu mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi dengan memberikan kesempatan yang lebih adil bagi anak-anak dari latar belakang prasejahtera untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

Dengan pembangunan sekolah di berbagai daerah, terutama di kantong-kantong kemiskinan, Sekolah Rakyat juga mendorong pemerataan pembangunan infrastruktur pendidikan dan membuka peluang kerja bagi tenaga pendidik serta masyarakat sekitar.

Secara keseluruhan, program ini menjadi langkah strategis dalam memutus mata rantai kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan generasi mendatang.

Pendekatan pembelajaran di Sekolah Rakyat, yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, dirancang untuk memberikan pendidikan yang menyeluruh dengan fokus pada pengembangan karakter dan keterampilan hidup.

Selain mengikuti kurikulum nasional yang mencakup mata pelajaran umum, peserta didik juga dibekali dengan pendidikan karakter, pelatihan keterampilan vokasional, dan wawasan kewirausahaan guna meningkatkan daya saing mereka di masa depan.

Dengan sistem berasrama penuh, siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga bimbingan dalam kedisiplinan, kepemimpinan, serta asupan gizi yang memadai. Metode pembelajaran yang diterapkan bersifat interaktif dan berbasis praktik, menekankan pendekatan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) serta pengalaman langsung agar siswa lebih siap menghadapi dunia kerja.

Melalui konsep ini, Sekolah Rakyat diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki keterampilan yang relevan serta peluang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.

Penulis: Umi Hanifah (Content Writer Pintasan.co)