Pintasan.co, Jakarta – Norwegia pada Kamis (3/4) menyatakan kekhawatirannya bahwa tarif baru yang diberlakukan oleh AS bisa bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar NATO, terutama Pasal 2 yang menekankan pentingnya kerja sama ekonomi antara sekutu untuk mencegah konflik.
“Jika Anda menginginkan NATO yang kuat, Anda harus memastikan bahwa ada pertumbuhan ekonomi sebanyak mungkin di negara-negara NATO,” ujar Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, yang sedang berada di Brussels untuk menghadiri pertemuan NATO.
Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa para pendiri NATO percaya bahwa kerja sama ekonomi akan menguntungkan seluruh aliansi.
Eide memperingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang merusak perdagangan antar anggota NATO bisa melemahkan aliansi tersebut.
Dia juga mengungkapkan rencananya untuk membahas masalah ini langsung dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pertemuan di Brussels.
Pada Rabu (2/4), Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor minimum 10 persen untuk sebagian besar negara, termasuk Inggris, yang akan berlaku pada Sabtu.
Meskipun tarif 10 persen terhadap Inggris akan memberikan dampak, Perdana Menteri Inggris, Kier Starmer, mengatakan bahwa importir Inggris akan terhindar dari tarif yang lebih tinggi, seperti tarif 20 persen untuk Uni Eropa, 54 persen untuk China, dan 46 persen untuk Vietnam.
Kebijakan tarif ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pemimpin Eropa, yang takut dapat membebani hubungan transatlantik, terutama saat NATO berusaha menjaga persatuan dalam menghadapi ancaman keamanan global.