Pintasan.co – Konferensi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) COP30 yang diselenggarakan di Belém, Brasil, resmi ditutup pada Sabtu, 22 November 2025, dengan hasil yang mengecewakan banyak pihak.

Pertemuan tahunan tersebut gagal mencapai kesepakatan untuk mulai menghentikan penggunaan bahan bakar fosil yang dinilai jadi sumber utama pemanasan global yang selama ini menjadi sorotan komunitas internasional.

Tahun ini, Amerika Serikat tidak hadir dalam konferensi tersebut setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memilih tidak mengirimkan delegasi ke Brasil. Ketidakhadiran AS dipandang mengurangi tekanan global terhadap isu transisi energi.

Menurut laporan NPR pada Minggu, 23 November 2025, capaian COP30 hanya sebatas kemajuan terbatas dalam upaya dunia mengendalikan laju kenaikan suhu bumi serta mendukung pendanaan adaptasi iklim.

Di awal agenda, lebih dari 80 negara—termasuk Inggris, Jerman, Meksiko, dan Brasil—mendorong penyusunan “peta jalan” untuk mengurangi ketergantungan dunia pada minyak, batu bara, dan gas alam. Banyak negara berkembang yang paling terdampak perubahan iklim bergabung dalam desakan tersebut, menilai bahwa komitmen yang dibuat pada 2023 harus mulai diterjemahkan menjadi langkah nyata.

Namun, penolakan kuat datang dari negara-negara penghasil energi fosil besar seperti Rusia dan Arab Saudi. Mereka menentang upaya menetapkan proses maupun jadwal untuk meninggalkan bahan bakar fosil, yang pada akhirnya membuat rujukan terhadap sumber energi tersebut hilang sepenuhnya dari dokumen akhir konferensi.

Presiden COP30, André Aranha Corrêa do Lago, mengakui bahwa hasil perundingan masih jauh dari harapan banyak delegasi. Meski demikian, sekitar dua lusin negara menyatakan siap bekerja sama dengan PBB dalam sebuah mekanisme baru yang berfokus pada transisi energi global.

Kolombia dan Belanda bahkan telah merencanakan konferensi internasional khusus mengenai transisi bahan bakar fosil pada April mendatang. Menteri Perubahan Iklim Vanuatu, Ralph Regenvanu, menyebut inisiatif baru tersebut sebagai salah satu capaian penting dari COP30 meskipun isi kesepakatannya dianggap kurang ambisius. “Tidak sempurna, tetapi tetap merupakan langkah maju,” ujarnya.

Baca Juga :  Bupati dan Wabup Luwu Timur Pimpin Upacara HUT KORPRI ke-54, Tekankan Kesiapsiagaan ASN

Walaupun pembakaran bahan bakar fosil telah lama diidentifikasi sebagai penyebab terbesar pemanasan global, negosiasi mengenai pengurangannya selalu menemui jalan buntu. Dua tahun lalu di Dubai, negara-negara peserta sebenarnya telah sepakat menyerukan perlunya transisi global dari bahan bakar fosil. Akan tetapi, implementasinya kembali gagal disepakati tahun ini.

Dokumen penutup COP30 hanya menegaskan urgensi pemangkasan emisi secara “cepat, dalam, dan berkelanjutan,” tetapi tidak menyebutkan secara spesifik langkah terhadap penggunaan bahan bakar fosil—sebuah kompromi yang meninggalkan banyak negara dengan rasa kecewa.