Pintasan.co, Jakarta – Amerika Serikat sebelumnya berulang kali menyampaikan peringatan keras terkait tindakan represif pemerintah Iran terhadap demonstrasi anti-pemerintah. Teheran merespons dengan ancaman akan menyerang target militer dan kepentingan AS jika Washington melakukan intervensi.

Namun, setelah melontarkan sejumlah ancaman, Presiden AS Donald Trump mengubah sikap. Ia menyatakan telah menerima jaminan dari pihak yang ia sebut sebagai sumber penting bahwa Iran tidak akan mengeksekusi para demonstran.

Di tengah situasi tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut mendesak Trump agar menunda rencana serangan militer terhadap Iran. Sejumlah pejabat AS menyebut Netanyahu menyampaikan permintaan itu pada pekan ini.

Upaya menahan langkah militer AS juga datang dari negara-negara Teluk. Seorang pejabat senior Arab Saudi mengatakan kepada AFP, Kamis (15/1/2026), bahwa Arab Saudi, Qatar, dan Oman memimpin lobi diplomatik untuk membujuk Trump agar tidak menyerang Iran. Ketiga negara itu khawatir serangan militer akan memicu dampak serius terhadap stabilitas kawasan.

Sementara itu, militer AS terus melakukan penyesuaian kekuatan. AS mengerahkan satu kapal induk dari Laut China Selatan ke kawasan, meski saat ini tidak memiliki kapal induk yang beroperasi langsung di wilayah tersebut. Pada awal pekan, Washington juga menarik sebagian personel dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, pangkalan udara terbesar AS di Timur Tengah.

Departemen Luar Negeri AS turut mengeluarkan peringatan perjalanan. Pemerintah meminta warga AS membatasi perjalanan yang tidak penting ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut.

Hingga kini, Trump belum mengambil keputusan final terkait opsi serangan ke Iran. Meski demikian, para pejabat AS menegaskan seluruh opsi masih tersedia.

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, menegaskan Presiden Trump membuka semua kemungkinan untuk menghentikan kekerasan di Iran. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam sidang Dewan Keamanan PBB di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Baca Juga :  Krisis Kesehatan Mata di Gaza Memburuk, Operasi Terhenti karena Minim Alat

Amerika Serikat dan kelompok oposisi Iran kembali mengecam tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi nasional. Para aktivis menyebut aksi represif tersebut telah menewaskan sedikitnya 2.677 orang, meski angka tersebut masih terus diperdebatkan.

“Presiden Trump telah menegaskan bahwa semua opsi tersedia untuk menghentikan pembantaian, dan pimpinan rezim Iran memahami hal itu,” ujar Waltz, seperti dikutip dari AP News.