Pintasan.co, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai meredam sikapnya terhadap Iran setelah gelombang demonstrasi besar di negara tersebut mereda. Trump, yang sebelumnya mendukung aksi protes dan sempat melontarkan ancaman intervensi militer, kini menunjukkan pendekatan lebih lunak.

Melalui akun Truth Social, Trump menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Iran karena membatalkan rencana eksekusi massal terhadap ratusan tahanan. Ia menilai keputusan tersebut sebagai langkah penting yang berdampak besar terhadap situasi politik Iran. Sikap Trump juga melunak setelah sejumlah negara Teluk, seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman, meminta Washington menahan diri.

Sementara itu, para pemimpin Iran justru menampilkan kepercayaan diri tinggi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintah berhasil mengendalikan aksi demonstrasi. Ia bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang terbuka terhadap Iran.

Pezeshkian menyampaikan peringatan tersebut sebagai respons atas pernyataan Trump yang menyinggung kemungkinan pergantian kepemimpinan di Iran. Menurutnya, ancaman terhadap pemimpin tertinggi sama artinya dengan menyerang kedaulatan bangsa Iran.

Di sisi lain, wacana perubahan rezim melalui intervensi militer dinilai bukan opsi mudah. Amerika Serikat dan Israel memang kerap menggaungkan pergantian rezim Iran, namun langkah tersebut membutuhkan sumber daya besar, waktu panjang, dan hasilnya tidak pasti. Upaya serupa selama dua dekade terakhir hanya mampu menunda program nuklir Iran, bukan menghentikannya.

Selain itu, risiko eskalasi konflik juga dinilai tinggi. Jika konfrontasi meluas, Iran berpotensi menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan minyak dunia. Langkah tersebut dapat memicu gangguan besar pada pasar energi global dan meningkatkan ancaman konflik berskala luas di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga :  India Pertimbangkan Larang Terbang Sementara Boeing 787-8 Usai Kecelakaan Tragis di Ahmedabad