Pintasan.co, Jakarta – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai Inggris tidak lagi layak menyandang sebutan Britania Raya saat membahas isu kolonialisme, termasuk terkait Greenland. Menurut Lavrov, Inggris menjadi satu-satunya negara yang secara resmi menggunakan kata “Great” atau “Raya” dalam namanya.

Lavrov menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan pada Selasa (20/1/2026). Ia menegaskan bahwa istilah tersebut berarti “besar” dan jarang digunakan negara lain untuk menyebut diri mereka sendiri. Meski begitu, Lavrov menekankan ucapannya tidak dimaksudkan untuk menyinggung Inggris.

Ia kemudian mencontohkan Libya di era Muammar Gaddafi yang pernah memakai nama “Republik Sosialis Rakyat Libya Arab Raya”. Namun, negara dengan nama tersebut kini sudah tidak ada.

Dalam bahasa Rusia, Inggris dan Irlandia Utara dikenal dengan sebutan “Velikobritaniya” atau Britania Raya. Hubungan Rusia dan Inggris sendiri terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina.

Inggris secara terbuka mengecam Rusia dan aktif memasok persenjataan ke Ukraina. London juga menyebut Moskow sebagai ancaman bagi keamanan Eropa. Sebaliknya, Rusia menuding negara-negara Barat berupaya menyeret Ukraina ke NATO dan mengancam stabilitas keamanannya.

Media pemerintah Rusia kerap menggambarkan Inggris sebagai negara yang berupaya melemahkan Moskow. Di sisi lain, Rusia dan negara-negara Barat saling menuduh melakukan aktivitas spionase dengan intensitas tinggi sejak berakhirnya Perang Dingin.

Baca Juga :  Rusia Blokir Snapchat dan Roblox, Dinilai Terkait Aktivitas Ekstremisme