Pintasan.co, Luwu Timur – Pemerintah Kabupaten Luwu Timur turut mengikuti rangkaian utama prosesi adat Makkasawiang/Mabbalisumange, Mappangngolo Lise Rakki, Mappasisele Lise Rakki, hingga Manre Saperra dalam rangka peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80.
Kegiatan sakral tersebut berlangsung di Gedung Salassae, Kompleks Istana Kedatuan Luwu, Jumat (23/01/2026).
Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, didampingi Wakil Bupati Puspawati Husler, Ketua TP PKK Luwu Timur Ani Nurbani Irwan, Penjabat Sekretaris Daerah Ramadhan Pirade, Ketua Dharma Wanita Persatuan, serta Wakil Ketua DPRD Luwu Timur Harisah Suhardjo, di hadapan Yang Mulia Datu Luwu.
Rangkaian adat Makkasawiang merupakan salah satu tradisi sakral masyarakat Luwu yang sarat makna filosofis serta mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang luhur.
Salah satu prosesi utama dalam rangkaian tersebut adalah Manre Saperra, yang dimaknai sebagai kegiatan makan bersama atau syukuran sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah dan kesejahteraan yang telah diterima.
Adapun prosesi Mappangngolo Lise Rakki dan Mappasisele Lise Rakki menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Manre Saperra.
Kedua prosesi ini melambangkan pengelolaan hasil bumi, doa keselamatan, serta harapan akan keberkahan bagi seluruh masyarakat Tanah Luwu.
Pada kesempatan itu, Bupati Irwan menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu menjadi momentum penting untuk terus memperkuat komitmen dalam melestarikan adat dan budaya lokal sebagai bagian dari jati diri daerah, khususnya sebagai Wija To Luwu.
Ia menegaskan bahwa tradisi adat harus senantiasa dijaga dan diwariskan kepada generasi selanjutnya karena menjadi simbol identitas, warisan budaya, serta perekat persatuan masyarakat Luwu.
“Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan, nilai-nilai kearifan lokal, serta upaya menjaga persatuan dan kebersamaan masyarakat,” tutur Bupati Irwan.
