Pintasan.co, Jakarta – Seorang jenderal senior China yang sebelumnya dicopot oleh Presiden Xi Jinping karena dugaan pelanggaran disiplin berat kini dilaporkan terjerat tuduhan serius, yakni membocorkan rahasia nuklir negaranya kepada Amerika Serikat.

Mengutip laporan The Telegraph, Jenderal Zhang Youxia tokoh penting dalam struktur operasional Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dituding menyerahkan informasi sensitif terkait persenjataan nuklir China kepada pihak Washington. Dugaan ini pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal.

Perwira berusia 75 tahun tersebut resmi diberhentikan dari jabatannya pada Sabtu lalu. Dalam sebuah rapat internal tertutup yang dihadiri petinggi militer, Zhang juga dituduh menerima suap untuk meloloskan seorang perwira menjadi menteri pertahanan serta membentuk faksi politik di lingkungan militer.

Tak lama setelah pertemuan tersebut, otoritas Beijing mengumumkan secara terbuka bahwa Zhang tengah menjalani proses penyelidikan. Langkah ini terjadi di tengah percepatan pengembangan kekuatan nuklir China.

Penyelidikan terhadap Zhang disebut berkaitan dengan Gu Jun, mantan eksekutif China National Nuclear Corporation, lembaga yang mengelola program nuklir sipil dan militer. Gu diduga menjadi pihak yang menyerahkan bukti penting dalam kasus ini.

Gu Jun sendiri sedang diperiksa dalam perkara korupsi besar yang menjerat sektor pertahanan dan nuklir China. Pemerintah Beijing mengumumkan penyelidikan luas tersebut pada pekan lalu.

Sumber internal menyebutkan bahwa dari hasil penyelidikan terhadap Gu, aparat menemukan indikasi kebocoran keamanan di sektor nuklir yang diduga melibatkan Zhang.

Selama bertahun-tahun, Zhang dikenal sebagai figur kuat yang seolah kebal dari gelombang pembersihan internal militer. Ia merupakan salah satu dari sedikit jenderal PLA yang memiliki pengalaman tempur langsung, termasuk saat konflik singkat China-Vietnam pada 1979.

Kedekatannya dengan Xi Jinping sejak masa kecil membuat Zhang lama dianggap berada di posisi aman. Namun, pencopotannya kini disebut sebagai salah satu pemecatan paling mengejutkan dalam kampanye Xi memberantas korupsi dan ketidaksetiaan di tubuh militer.

Baca Juga :  Polisi Berhasil Amankan Dua Penipu Menyamar Jadi Polisi, Rampas Barang Berharga Hingga Puluhan Juta Rupiah

Sejak memimpin China, Xi Jinping telah meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan dengan ambisi menjadikan PLA sebagai kekuatan militer kelas dunia pada 2049. Intelijen Amerika Serikat bahkan menyebut Xi telah memerintahkan kesiapan militer untuk kemungkinan operasi terhadap Taiwan dalam waktu dekat.

Sebelumnya, pada Oktober lalu, sembilan jenderal senior lainnya juga dicopot dari jabatan, termasuk mantan wakil ketua Komisi Militer Pusat (CMC), He Weidong. Langkah tersebut mencerminkan kekecewaan Xi terhadap lambannya reformasi militer.

Akibat gelombang pencopotan tersebut, CMC kini hanya menyisakan dua anggota, salah satunya Xi Jinping sendiri. Seluruh komandan berseragam yang diangkat pada 2022 telah disingkirkan, menjadikan komisi itu berada pada ukuran terkecil sepanjang sejarah. Sejumlah analis menilai kondisi ini berpotensi menghambat ambisi Beijing, khususnya terkait isu Taiwan, dalam beberapa tahun mendatang.