Pintasan.co, Jakarta – Nilai tukar dolar Amerika Serikat terus tertekan setelah pernyataan Presiden Donald Trump justru memicu kekhawatiran pasar. Pelaku pasar menilai kondisi tersebut sebagai krisis kepercayaan terhadap mata uang AS.
Komentar Trump yang menyebut dolar masih berada dalam kondisi baik mendorong aksi jual lanjutan. Pasar menafsirkan pernyataan itu sebagai sinyal bahwa pemerintah AS tidak mempermasalahkan pelemahan dolar. Akibatnya, euro, yen Jepang, dan pound sterling menguat tajam.
Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), euro menembus level US$1,20 untuk pertama kalinya sejak 2021 dan diperdagangkan di sekitar US$1,2015. Pound sterling mendekati level tertinggi dalam empat tahun di kisaran US$1,3823 pada awal perdagangan Asia.
Sementara itu, indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama turun ke level 95,964, setelah anjlok lebih dari 1% pada sesi sebelumnya dan menyentuh titik terendah empat tahun di 95,566.
Pelemahan dolar terjadi di tengah spekulasi potensi koordinasi AS dan Jepang untuk menstabilkan nilai tukar yen. Analis Capital.com Kyle Rodda menilai ketidakpastian kebijakan perdagangan, luar negeri, dan ekonomi di era Trump terus menekan kepercayaan investor terhadap dolar AS.
Sepanjang 2025, dolar telah melemah lebih dari 9%, menjadi penurunan tahunan terbesar sejak 2017. Memasuki Januari 2026, dolar kembali terdepresiasi sekitar 2,3%, dipicu kekhawatiran atas independensi Federal Reserve serta lonjakan belanja publik AS.
Pasar kini menanti keputusan kebijakan moneter Federal Reserve. Investor memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, dengan jeda kebijakan berlanjut hingga beberapa pertemuan mendatang.
Di sisi lain, yen Jepang menguat signifikan dan diperdagangkan di kisaran 152,60 per dolar AS. Penguatan tersebut didorong spekulasi adanya pemantauan nilai tukar oleh AS dan Jepang yang kerap dipandang sebagai sinyal awal intervensi.
Selain yen, dolar Australia juga menguat ke level US$0,70225, tertinggi sejak Februari 2023. Kenaikan ini dipicu pelemahan dolar AS secara luas serta data inflasi Australia yang lebih tinggi dari perkiraan, sehingga memunculkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Australia.
