Pintasan.co, JakartaPerdana Menteri Inggris Keir Starmer melakukan kunjungan resmi ke China untuk memperkuat hubungan diplomatik kedua negara. Agenda ini menjadi pertemuan pertamanya dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing setelah delapan tahun.

Menurut laporan AFP, kunjungan tersebut bertujuan membuka peluang kerja sama ekonomi dan perdagangan, meski Inggris tetap mencermati risiko terhadap keamanan nasional. Starmer datang bersama delegasi pelaku industri guna mempromosikan kepentingan bisnis Inggris melalui UK-China CEO Council, forum yang sempat lama tidak aktif.

Dewan bisnis tersebut dibentuk pada 2018 dan pernah berperan penting saat hubungan London-Beijing berada dalam periode yang kerap disebut sebagai “Era Emas”.

Selain isu ekonomi, Starmer diperkirakan membahas kasus Jimmy Lai, pengusaha media asal Hong Kong yang juga memegang kewarganegaraan Inggris. Kedua pemimpin juga kemungkinan menyinggung berbagai persoalan global, termasuk konflik Ukraina, di mana China dituduh mendukung Rusia melalui hubungan ekonomi yang erat.

Starmer berharap kunjungan ini dapat menghasilkan kesepakatan dagang yang mendukung pertumbuhan ekonomi Inggris. Namun, sejumlah analis menilai pertemuan ini lebih berfokus pada pengelolaan hubungan daripada membangun kepercayaan strategis penuh, sehingga hasil konkret dinilai akan terbatas.

Kunjungan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Inggris dan Amerika Serikat, menyusul langkah Presiden Donald Trump terkait isu Greenland serta ancaman tarif terhadap Inggris dan negara NATO lainnya.

Pengamat dari King’s College London, Kerry Brown, menilai China bukan sekutu Inggris, tetapi juga tidak dapat dianggap sebagai musuh. Hubungan kedua negara mulai membaik sejak Starmer menjabat pada 2024, termasuk setelah pertemuan tertutup dengan Xi di Brasil dan kerja sama dalam isu perubahan iklim.

Sebelumnya, rencana kunjungan Starmer sempat tertunda akibat perbedaan pandangan terkait pembangunan kompleks kedutaan besar China di London. Proyek tersebut menuai penolakan karena kekhawatiran soal spionase dan tekanan terhadap aktivis hak asasi manusia.

Baca Juga :  Banjir Parah Landa China Selatan, 70.000 Warga Dievakuasi

Pemerintah Inggris akhirnya menyetujui rencana tersebut pada Selasa (27/1/2026), dengan jaminan bahwa lembaga intelijen telah menyiapkan langkah mitigasi risiko.

Hubungan Inggris dan China pernah mencapai titik tertinggi sekitar satu dekade lalu, sebelum kembali merenggang sejak 2020 akibat isu Hong Kong, dugaan spionase, serangan siber, serta sikap Beijing terhadap perang Rusia di Ukraina.

Meski hubungan politik kerap berfluktuasi, China tetap menjadi mitra dagang terbesar ketiga Inggris. Namun, nilai ekspor Inggris ke China tercatat turun lebih dari 50 persen sepanjang 2025.