Pintasan.coPuasa adalah salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi ibadah sekaligus pendidikan karakter. Kewajiban puasa Ramadan ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Bagi anak-anak, puasa memang belum menjadi kewajiban hingga mencapai baligh. Namun, mengenalkan dan melatih mereka berpuasa sejak dini adalah bagian dari pendidikan iman yang sangat berharga. Bahkan jika orang tua merasa terlambat memulainya, sesungguhnya tidak ada kata terlambat dalam mendidik kebaikan.

Teladan dari Rasulullah SAW


Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, disebutkan bahwa para sahabat melatih anak-anak mereka berpuasa pada hari ‘Asyura. Mereka mengalihkan perhatian anak-anak dengan mainan hingga waktu berbuka tiba. Ini menunjukkan bahwa pendidikan puasa sudah dicontohkan sejak generasi awal Islam dengan pendekatan yang lembut dan penuh kasih.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan emosi, menjaga lisan, serta membangun kesabaran. Nilai-nilai inilah yang sangat penting ditanamkan sejak usia dini.

Mengapa Harus Sejak Dini?

  1. Melatih Disiplin dan Tanggung Jawab. Anak belajar bahwa ada aturan waktu sahur dan berbuka yang harus dipatuhi.
  2. Menumbuhkan Empati Sosial. Dengan merasakan lapar, anak belajar memahami kondisi orang-orang yang kekurangan.
  3. Membentuk Ketakwaan. Sejalan dengan tujuan puasa dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, latihan puasa membantu anak mengenal makna takwa secara bertahap.
  4. Membiasakan Ibadah. Kebiasaan baik yang ditanam sejak kecil akan lebih mudah melekat hingga dewasa.

Cara Bijak Mengajarkan Puasa pada Anak


Mengajarkan puasa tidak harus langsung sehari penuh. Orang tua bisa menerapkan metode bertahap, seperti:

  1. Puasa setengah hari, lalu ditingkatkan perlahan.
  2. Memberikan apresiasi dan motivasi, bukan tekanan.
  3. Menjelaskan makna puasa dengan bahasa sederhana.
  4. Memberi contoh nyata dengan berpuasa secara konsisten.
Baca Juga :  Khazanah Ramadhan: Menjual Makanan di Siang Hari Saat Ramadhan dalam Perspektif Fikih

Penting diingat, tujuan utama adalah pembiasaan dan pembelajaran, bukan memaksakan kewajiban sebelum waktunya.

Belum Terlambat Memulai


Bagi orang tua yang baru menyadari pentingnya melatih anak berpuasa, jangan berkecil hati. Pendidikan iman adalah proses sepanjang hayat. Selama anak belum baligh, masa itu adalah waktu emas pembentukan karakter. Bahkan setelah baligh pun, pembinaan tetap harus berjalan.

Islam adalah agama yang penuh rahmat dan bertahap dalam mendidik umatnya. Semangat ini hendaknya menjadi pegangan orang tua dalam membimbing anak.

Mengajarkan puasa sejak dini bukan hanya soal ibadah Ramadan, tetapi investasi akhlak dan ketakwaan jangka panjang. Tidak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan. Selama ada niat dan usaha, Allah SWT akan memudahkan langkah kita dalam mendidik generasi yang saleh dan salehah.

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang mencintai ibadah, memahami maknanya, dan menjalankannya dengan penuh kesadaran serta keikhlasan. Aamiin.