Pintasan.co, Surabaya – Suasana ramai tampak di kawasan Makam Sunan Ampel, Surabaya. Pasalnya di kawasan tersebut dipadati ribuan peserta Napak Tilas Isyarat Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) pada Minggu sore hari ini. Sejak dini hari jemaah dari berbagai daerah berkumpul di Bangkalan, Madura untuk pergi ke Surabaya naik sampan dan melanjutkan perjalanan ke Jombang.
Ketika peserta tiba di Surabaya, peserta Napak Tilas langsung menuju Kawasan Wisata Ampel. Dengan wajah lelah tetapi bersemangat, warga Nahdliyin itu terlihat masih antusias untuk mengikuti rangkaian Napak Tilas Pendirian NU.
Di antara peserta yang hadir, ada 4 santri muda dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo yang berbaur dengan jemaah lain. Mereka berasal dari Bondowoso dan Jember dan masing-masing telah menjadi bagian dari pesantren sejak 2018 hingga 2021.
Rohiki Mahtun (20), santri asal Bondowoso mengaku bahagia bisa ikut langsung napak tilas yang digagas para kiai. Menurutnya kesempatan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi santri.
“Kesan kami sangat bahagia dan senang karena antusias mengikuti napak tilas ini. Ini dilakukan oleh kiai kami, jadi sebagai santri kami bangga bisa mengikuti jejak beliau,” ujar Rohiki di sela kegiatan di Ampel.
Rombongan santri itu berangkat dari pesantren pada Sabtu (3/1) sekitar pukul 11.00 WIB dan mengikuti rangkaian kegiatan sejak pagi hari. Dari ribuan santri yang ada, hanya sekitar 200 orang yang diutus khususnya kalangan mahasiswa. Meski tidak semua santri bisa ikut secara langsung partisipasi tetap dilakukan dari jauh.
Muhammad Ibrahim Valentino (20), santri asal Jember, menyebut teman-temannya yang tidak berangkat tetap terlibat secara batiniah.
“Banyak teman kami yang ingin ikut, tapi karena tidak bisa jadi hanya bisa minta dan titip doa. Tapi kita semua zikir Ya Jabbar Ya Qahhar sebagai sambungan batin dan riyadhah napak tilas,” ujarnya.
Rohiki menimpali bahwa di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo biasanya juga mengadakan event kegiatan peringatan Harlah NU atau 1 abad NU termasuk tahun ini.
“Selain mengikuti acara yang diadakan pengurus NU pusat, pondok juga mengadakan acara yang berkaitan,” kata Rohiki.
Wajah semangat juga dirasakan peserta dewasa dari jaringan Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS).
Afifi (35) asal Banyuwangi dan Anwari (40) asal Jember berangkat sejak pagi hari menuju Bangkalan sebelum melanjutkan perjalanan napak tilas.
“Kesan kami luar biasa. Isyarat berdirinya NU ini momen yang sangat sakral, bukan hanya untuk NU, tapi juga untuk menjaga keutuhan NKRI,” kata Afifi.
Meski perjalanan panjang mulai terasa melelahkan, semangat peserta tetap terjaga. Anwari menyebut rasa pegal dan kaki yang mulai sakit tidak menyurutkan langkah.
“Walaupun kaki sudah banyak yang pincang, ini adalah perjuangan yang sejati,” ujarnya.
Di tengah antusiasme peserta, peran relawan juga menjadi bagian penting. Arifatutahani Aulia (20), relawan dari IPPNU, turut membagikan snack kepada peserta di kawasan Ampel. Kegiatan ini didukung donasi terbuka yang dikoordinasikan bersama Fatayat NU.
“Kami mulai persiapan dari jam 7 pagi untuk pasang terop dan snack siap jam 10. Pesertanya sekitar seribuan,” ujar Arifatutahani.
Arifatutahani mengungkapkan keprihatinannya melihat beberapa peserta yang kelelahan, terutama yang sudah lanjut usia. Panitia pun menyiapkan posko kesehatan bagi jamaah yang tidak sanggup melanjutkan perjalanan.
Namun, keterbatasan konsumsi menjadi catatan tersendiri. Beberapa peserta yang datang belakangan tidak sempat menerima snack karena stok habis.
“Kaget juga banyak anak kecil yang ikut. Itu menunjukkan semangat NU lintas usia,” tambahnya.
Bagi Arifatutahani pribadi, keterlibatannya sebagai relawan justru memberi suntikan semangat baru.
“Kalau yang tua saja masih kuat ikut, apalagi kita yang muda. Harapannya ke depan konsumsi bisa lebih banyak, bahkan bukan cuma snack, tapi juga nasi dan kopi,” katanya.
Kehadiran santri, alumni, hingga relawan di Makam Sunan Ampel menjadi potret hidup partisipasi warga Nahdliyin dalam napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga ikhtiar spiritual untuk meneladani perjuangan para muassis NU.
