Pintasan.co, Jakarta – Ketegangan hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesempatan Teheran untuk mencapai kesepakatan nuklir kian menipis.
Melalui unggahan di media sosial pada Rabu, Trump menyatakan armada militer AS yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln kini lebih besar dibandingkan pengerahan sebelumnya ke Venezuela.
Armada tersebut, menurutnya, siap bergerak cepat dan melakukan operasi keras bila situasi menuntut.
Trump kembali mendesak Iran agar segera membuka jalur perundingan dengan satu syarat utama: tidak memiliki senjata nuklir.
“Semoga Iran segera duduk di meja perundingan dan menyepakati kesepakatan yang adil dan seimbang tanpa senjata nuklir yang menguntungkan semua pihak. Waktu terus berjalan dan ini sangat krusial,” tulis Trump.
Ia juga memperingatkan bahwa serangan selanjutnya akan jauh lebih masif apabila Iran kembali menolak ajakan negosiasi.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling tegas sejauh ini bahwa Washington mulai serius mempertimbangkan opsi militer dalam waktu dekat jika Teheran tetap enggan berunding.
Perhatian Gedung Putih pun terlihat bergeser, dari isu penindasan demonstrasi di Iran menuju kekhawatiran atas kelanjutan program nuklir negara tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut ribuan orang tewas dalam gelombang demonstrasi terbaru dan menilai posisi pemerintah Iran saat ini sebagai yang terlemah sejak Revolusi Islam 1979.
Meski demikian, Rubio mengingatkan bahwa Iran masih memiliki kekuatan militer yang signifikan untuk menyerang pasukan AS di kawasan, termasuk ribuan drone dan rudal balistik jarak pendek.
“Sekitar 30.000 tentara AS berada dalam jangkauan ribuan UAV satu arah dan rudal balistik jarak pendek milik Iran,” ujar Rubio di hadapan Senat, sambil menekankan pentingnya kesiapan pertahanan maksimal.
Dari pihak Iran, ancaman balasan juga disampaikan secara terbuka. Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, menegaskan bahwa setiap aksi militer AS akan dipandang sebagai pemicu perang dan akan dibalas secara cepat, luas, dan belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk dengan menyerang Tel Aviv serta pihak-pihak yang mendukung agresi.
Di saat yang sama, negara-negara regional seperti Turki dan negara-negara Teluk berupaya meredam eskalasi.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, meminta AS tidak menyatukan seluruh tuntutannya terhadap Iran dalam satu paket, karena pendekatan tersebut dikhawatirkan justru menutup peluang dialog.
Iran menegaskan tidak bersedia berunding di bawah tekanan. Namun, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan Teheran tetap terbuka terhadap kesepakatan nuklir yang adil dan setara, tanpa ancaman atau intimidasi, serta menjamin pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, pelemahan nilai mata uang, serta kerusakan sejumlah fasilitas nuklir akibat serangan sebelumnya, eskalasi terbaru ini menempatkan kawasan Timur Tengah pada ambang krisis paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.
