Pintasan.co, Jakarta – Viralnya memoar “Broken Strings” Aurelie Moeremans lebih dari sekadar kisah personal. Kasus ini menjadi cermin retak yang memantulkan kegagalan kolektif kita. Di era di mana perhatian menjadi komoditas utama, etika publik ternyata mudah tergadaikan. Kita menyaksikan bukan hanya kesaksian seorang korban, tetapi juga bagaimana sebuah masyarakat memproses tragedi sering kali dengan cara yang memperparah luka.
Dari Kesaksian Menjadi Konten: Eksploitasi Berlapis di Era Digital
Narasi publik tentang Broken Strings dengan cepat mengalami distorsi yang memprihatinkan. Ruang digital seharusnya bisa menjadi tempat edukasi tentang child grooming, yaitu manipulasi psikologis sistematis untuk mengeksploitasi anak. Namun, yang terjadi justru berbeda. Arena ini berubah menjadi spektakel yang memprioritaskan sensasi.
Media kerap mengabaikan Kode Etik Jurnalistik dengan membuka detail traumatis hanya untuk mengejar klik. Di sisi lain, banyak influencer ramai-ramai membuat konten “reaksi” terhadap pernyataan pelaku. Ironisnya, bentuk empati di era digital sering kali bersifat performatif. Ekspresi wajah terkejut di thumbnail justru mengubah penderitaan korban menjadi bahan konsumsi ringan. Aurelie dan korban lain yang terdorong untuk bicara harus menyaksikan kisah mereka berubah menjadi komoditas hiburan yang mudah dibagikan. Mekanisme yang seharusnya memberi suara pada korban justru menjadikan mereka bahan baku bagi mesin konten yang haus viralitas.
Di Balik Kegaduhan: Kegagalan Sistemik yang Dinormalisasi
Fokus pada kegaduhan media sering mengalihkan kita dari akar masalah yang lebih dalam. Kita gagal melihat kegagalan sistemik yang membiarkan praktik grooming tumbuh subur. Kejahatan ini beroperasi dalam selimut normalisasi budaya yang gemar meromantisasi hubungan tak setara.
Masyarakat masih terjebak dalam pencarian narasi korban yang sempurna. Sikap ini menciptakan lingkungan yang memungkinkan predator bekerja, karena fokus beralih ke menilai tindakan korban muda alih-alih mempertanyakan kekuasaan orang dewasa. Sistem hukum pun sering kali masih tumpul. Korban menghadapi tantangan pembuktian yang besar sementara tekanan sosial untuk diam tetap kuat. Industri hiburan sebagai tempat awal Aurelie juga sering abai. Sistem yang seharusnya melindungi justru kerap menunggu hingga korban memiliki keberanian dan platform untuk viral sendiri sebelum bergerak.
Memulihkan yang Patah: Sebuah Refleksi Kolektif
Broken Strings akhirnya mengajak kita pada refleksi yang tidak nyaman. Apakah kita sebagai publik justru menjadi bagian dari mekanisme yang memperpanjang penderitaan? Etika publik yang runtuh tidak hanya ditandai oleh tindakan kita, tetapi juga oleh apa yang kita biarkan menjadi normal.
Kita membiarkan kekerasan seksual didiskusikan dengan logika clickbait. Kita menerima spekulasi liar sebagai pengganti analisis mendalam. Kita merasa cukup dengan empati instan alih-alih mendorong perubahan sistemik. Semua ini adalah gejala degradasi bersama. Memulihkan etika itu membutuhkan keberanian untuk menyebut grooming sebagai kejahatan kriminal, bukan drama hubungan. Setiap pihak harus bertanggung jawab. Media perlu memberitakan dengan martabat. Platform digital wajib mengutamakan keselamatan di atas keterlibatan. Sistem hukum harus memahami trauma. Kita semua perlu mendengarkan korban dengan kesungguhan, bukan sekadar menyimaknya sebagai konten viral. Patahan di senar Aurelie mungkin berasal dari masa lalu, tetapi memperbaiki senar etika publik yang putus adalah tanggung jawab kita sekarang.
Penulis : Alya Rahma Puspita (Mahasiswa Administrasi Perpajakan Universitas Indonesia)
