Pintasan.co, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi selama fenomena El Nino berlangsung bersamaan dengan musim kemarau 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fatani, mengatakan enam provinsi yang menjadi fokus pengendalian karhutla berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kawasan lahan gambut cukup luas dan rentan terbakar saat musim kering.

“Tentu saja, jadi ada enam provinsi yang kita fokuskan sekarang, yang kita jaga agar karhutla ini dapat bisa kita kendalikan yaitu mulai dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan. Kemudian untuk Kalimantan ada tiga provinsi yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat,” ujar Faisal di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Faisal, pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipatif dengan melibatkan lintas kementerian dan lembaga, termasuk pemerintah daerah serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), guna memetakan titik panas atau hotspot yang berpotensi memicu kebakaran.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah kini menerapkan pendekatan yang lebih preventif dalam penanganan karhutla. Paradigma tersebut mulai diterapkan sejak 2015, dengan fokus utama mencegah kebakaran sebelum terjadi, bukan hanya memadamkan api setelah muncul.

“Kalau sebelumnya kalau ada titik api, ada hotspot itu kita padamkan. Tapi kalau sekarang, sebelum terjadi itu kita mencegah atau melakukan upaya preventif,” katanya.

Sebagai bagian dari strategi pencegahan, BMKG memanfaatkan data kondisi air tanah dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk memantau tingkat kelembapan lahan gambut. Apabila permukaan air tanah turun hingga batas tertentu, BMKG akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna meningkatkan kadar air dan menjaga lahan tetap jenuh sehingga tidak mudah terbakar.

“Kalau dia sudah turun pada batas tertentu, maka kita perlu melakukan modifikasi cuaca di sana untuk mengisi lagi agar dia dalam kondisi jenuh dan menjadi lebih sulit untuk terbakar,” ujar Faisal.

Baca Juga :  Menteri HAM Apresiasi Langkah KDM, Bakal Dorong Pendidikan Anak oleh TNI Bisa me-Nasional

Menurut BMKG, strategi tersebut terbukti efektif menekan angka kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa tahun terakhir. Data menunjukkan tren karhutla mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya berkat pendekatan yang lebih preventif.

Selain wilayah gambut di Sumatera dan Kalimantan, BMKG juga mencatat kemunculan sejumlah titik panas di wilayah lain seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua Selatan. Namun, dampak kebakaran di wilayah tersebut dinilai tidak sebesar karhutla yang terjadi di lahan gambut.

Faisal menjelaskan bahwa kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik berbeda karena dapat berlangsung lebih lama dan menghasilkan pembakaran tidak sempurna yang memicu polusi udara berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

“Kalau di gambut dia bisa lama sekali dan proses pembakarannya tidak sempurna sehingga menimbulkan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh manusia serta polusi,” katanya.

BMKG mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah rawan karhutla untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak musim kemarau 2026, terutama saat fenomena El Nino mulai aktif dan berpotensi memperpanjang periode cuaca kering di sejumlah wilayah Indonesia.