Pintasan.co, Jakarta – Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa latihan gabungan yang dilakukan oleh Komando Palagan Timur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) di sekitar Pulau Taiwan merupakan peringatan tegas terhadap pihak-pihak yang mendukung “kemerdekaan Taiwan.”

“Latihan tersebut merupakan peringatan serius dan tindakan penahanan terhadap pasukan separatis ‘kemerdekaan Taiwan’ dan langkah yang sah dan perlu untuk mempertahankan kedaulatan dan persatuan nasional karena Taiwan adalah bagian yang tidak dapat dicabut dari wilayah China,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa.

Latihan gabungan yang dimulai pada Selasa (1/4) melibatkan berbagai angkatan, seperti angkatan darat, laut, udara, dan roket, yang mendekati Pulau Taiwan dari berbagai arah.

Menurut Juru Bicara Komando Palagan Timur PLA, Kolonel Senior Shi Yi, latihan ini difokuskan pada patroli kesiapan tempur laut-udara, perebutan keunggulan komprehensif, serangan presisi terhadap target maritim dan darat, serta blokade di area utama dan jalur laut untuk menguji kemampuan operasi gabungan pasukan.

“Masalah Taiwan murni urusan internal China yang tidak menoleransi campur tangan eksternal. Partai Progresif Demokratik (DPP) bersikeras untuk mengupayakan ‘kemerdekaan Taiwan’ dan berupaya untuk meminta dukungan eksternal untuk agenda tersebut dan memecah belah negara. Upaya tersebut sia-sia dan pasti akan gagal,” tegas Guo Jiakun.

Laporan dari media pemerintah China menyebutkan bahwa Komando Palagan Timur PLA mengatur formasi kapal dan pesawat, serta berkoordinasi dengan pasukan rudal konvensional dan sistem peluncur roket jarak jauh untuk melaksanakan latihan seperti penyergapan udara, penyerangan terhadap target maritim, serangan ke objek darat, dan blokade serta kendali bersama di perairan utara, selatan, dan timur Pulau Taiwan.

Baca Juga :  Yustiana, Notaris Pemalsu Surat Menjalani Sidang Perdana

Shi Yi juga mengingatkan bahwa latihan gabungan ini merupakan peringatan keras terhadap pasukan separatis yang mendukung “kemerdekaan Taiwan” dan merupakan tindakan sah yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan serta persatuan nasional China.

Tidak ada nama sandi yang diumumkan untuk latihan ini, berbeda dengan latihan sebelumnya pada Mei dan Oktober 2024 yang menggunakan kode “Joint Sword-2024A” dan “Joint Sword-2024B”.

Latihan ini dilakukan setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan pada Minggu (30/3) di Jepang bahwa AS akan memastikan adanya “kredibilitas penggentaran” di Selat Taiwan. Hegseth juga mengkritik China dan menekankan pentingnya Jepang dalam menghadapi agresi China.

“Soal kerja sama militer dan keamanan antara AS dan Jepang, selayaknya tidak boleh menargetkan negara ketiga mana pun, atau membahayakan perdamaian dan pembangunan regional. Dengan menyebut China sebagai ‘ancaman’ dan menggunakannya sebagai dalih, AS telah memicu pertentangan ideologis, serta memicu perpecahan dan konfrontasi,” ujar Guo Jiakun.

Guo Jiakun juga mengingatkan negara-negara di kawasan untuk waspada terhadap praktik semacam ini.

“Mengenai masalah Taiwan, kami mendesak orang-orang tertentu di AS untuk melepaskan ilusi ‘menggunakan Taiwan untuk membendung China’, mematuhi prinsip satu China dan tiga komunike bersama China-AS dengan tindakan konkret, serta menghormati komitmen yang dibuat oleh AS terkait masalah Taiwan,” tambah Guo Jiakun.

Pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, bersama dengan Partai Progresif Demokratik yang mendukungnya, memiliki pandangan yang berseberangan dengan China dan menolak anggapan bahwa Taiwan adalah bagian dari China.

Taiwan melaporkan bahwa China telah mengerahkan 21 kapal perang di sekitar pulau itu, termasuk kelompok kapal induk Shandong, 71 pesawat militer, dan empat kapal penjaga pantai.