Pintasan.co, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkaji langkah tegas terhadap Iran setelah demonstrasi di negara itu menewaskan lebih dari 500 orang. Salah satu opsi yang masuk pembahasan adalah kemungkinan serangan militer.

Trump menyampaikan hal tersebut kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One. Ia menegaskan pemerintah AS bersama militer sedang menelaah sejumlah pilihan sebelum menentukan keputusan akhir.

Lembaga HAM berbasis di AS, HRANA, mencatat sedikitnya 500 orang tewas dalam unjuk rasa di Iran, termasuk ratusan demonstran dan puluhan aparat keamanan. HRANA juga melaporkan lebih dari 10.600 orang ditangkap. Hingga kini, pemerintah Iran belum mengumumkan data resmi, sementara laporan HRANA masih menunggu verifikasi independen.

Aksi protes di Iran berlangsung sejak akhir Desember dan bermula dari krisis ekonomi. Dalam perkembangannya, demonstrasi berubah menjadi tuntutan pergantian rezim Ayatollah Ali Khamenei. Amerika Serikat dan Israel secara terbuka menyatakan dukungan kepada para pengunjuk rasa.

Trump dijadwalkan bertemu para penasihat senior untuk membahas situasi Iran, termasuk opsi intervensi. Sejumlah laporan menyebut AS menyiapkan berbagai skenario bantuan, mulai dari dukungan militer, siber, hingga akses internet, menyusul pemutusan jaringan di Iran.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memilih tidak turun tangan secara langsung dan menyerahkan langkah lanjutan kepada AS. Meski demikian, Israel tetap bersiaga menghadapi kemungkinan serangan balasan. Pemerintah Iran sendiri memperingatkan AS dan Israel agar tidak mencampuri urusan domestik dan mengancam akan melakukan serangan balasan jika intervensi terjadi.

Baca Juga :  Iran, Rusia, dan China Gelar Pertemuan di Moskow Bahas Isu Nuklir