Pintasan.co, Jakarta – Inggris tengah menghadapi tekanan ekonomi seiring melonjaknya angka pengangguran dan maraknya pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor. Data resmi Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) mencatat tingkat pengangguran berada di angka 5,1 persen hingga akhir 2025, tertinggi dalam hampir lima tahun terakhir.
ONS melaporkan angka tersebut tidak berubah pada periode tiga bulan hingga akhir November dibandingkan kuartal sebelumnya. Data ini muncul menjelang pengumuman anggaran pemerintah Partai Buruh pada akhir November lalu.
Pelaku usaha memilih mengurangi jumlah karyawan karena bersiap menghadapi potensi kenaikan pajak. Langkah ini turut menekan kondisi pasar tenaga kerja.
Selain pengangguran, ONS juga mencatat perlambatan pertumbuhan upah. Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown, menyebut kenaikan upah di sektor swasta turun ke level terendah dalam lima tahun, sementara upah sektor publik masih tumbuh relatif tinggi.
Pemerintah Inggris akan merilis data inflasi terbaru untuk Desember pada Rabu. Bank of England akan menggunakan data inflasi tersebut, bersama angka pengangguran dan indikator pertumbuhan ekonomi lainnya, sebagai dasar penentuan kebijakan suku bunga.
Ekonom Capital Economics, Ashley Webb, menilai data pengangguran saat ini membuat peluang pemangkasan suku bunga pada Februari masih kecil. Namun, ia menambahkan penurunan inflasi yang signifikan bisa kembali membuka peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
