Pintasan.co, Jakarta Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Vahd Nabyl Achmad Mulachela menanggapi sorotan publik terkait status kewarganegaraan Kezia Syifa, seorang warga negara Indonesia (WNI) yang diketahui bergabung dengan militer Amerika Serikat.

Vahd menyampaikan bahwa Kemlu menyerahkan sepenuhnya penentuan status kewarganegaraan Kezia kepada Kementerian Hukum.

Menurut Vahd, persoalan kewarganegaraan merupakan kewenangan utama Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.

Oleh karena itu, Kemlu merujuk pada pernyataan resmi yang telah disampaikan oleh Menkum terkait kasus tersebut.

Sebelumnya, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menegaskan bahwa keterlibatan Kezia Syifa sebagai anggota Army National Guard Amerika Serikat masih harus dipastikan kebenarannya.

Ia menjelaskan, pada prinsipnya setiap WNI dilarang bergabung dengan militer asing tanpa izin Presiden Republik Indonesia.

Supratman menambahkan, apabila terbukti seorang WNI bergabung dengan tentara asing tanpa persetujuan Presiden, maka status kewarganegaraan yang bersangkutan secara otomatis gugur.

Dalam kondisi tersebut, Kementerian Imigrasi dapat mengambil langkah lanjutan berupa pencabutan dokumen perjalanan, termasuk paspor, setelah proses verifikasi selesai dilakukan.

Kasus Kezia Syifa mencuat setelah beredar luas sebuah video yang memperlihatkan momen perpisahan antara seorang ibu dan anak perempuannya yang akan berangkat menjalani tugas militer.

Dalam video itu, Kezia tampak mengenakan seragam militer Amerika Serikat dan berhijab, sehingga menarik perhatian publik.

Diketahui, Kezia Syifa merupakan WNI asal Tangerang, Banten, yang kini bergabung sebagai anggota Garda Nasional Amerika Serikat.

Berusia 20 tahun, Kezia merupakan bagian dari keluarga diaspora Indonesia yang menetap di negara bagian Maryland sejak pertengahan 2023 dengan status green card.

Status tersebut memberikan kesempatan baginya untuk melanjutkan pendidikan serta memilih jalur karier di Amerika Serikat.

Ibunda Kezia, Safitri, menyebut keputusan sang putri untuk bergabung dengan militer AS telah melalui pertimbangan matang dan diskusi panjang bersama keluarga, dengan mempertimbangkan aspek pendidikan, masa depan, serta kesiapan mental.

Baca Juga :  Tim Gabungan Lakukan Pengawasan Ketat Tempat Karaoke dan Hiburan Malam di Jogja