Pintasan.co, Jakarta – China kembali mencatat rekor kelam dalam krisis demografi. Angka kelahiran di negara tersebut turun ke level terendah sepanjang sejarah pada 2025, menandai semakin seriusnya masalah penyusutan populasi.

Berdasarkan laporan AFP, otoritas China mencatat hanya 7,92 juta bayi lahir sepanjang 2025, dengan tingkat kelahiran sekitar 5,63 per 1.000 penduduk. Angka ini menjadi yang paling rendah sejak Badan Statistik Nasional China mulai melakukan pencatatan pada 1949.

Penurunan tersebut mempertegas tren menyusutnya populasi di tengah tantangan penuaan penduduk yang berlangsung cepat. Meski pemerintah telah menghapus kebijakan satu anak, laju kelahiran tetap belum menunjukkan pemulihan signifikan.

Untuk menekan penurunan tersebut, pemerintah China menggulirkan berbagai kebijakan. Salah satunya dengan mengenakan pajak pertambahan nilai sebesar 13 persen terhadap obat dan alat kontrasepsi, termasuk kondom, yang mulai berlaku pada 1 Januari 2026.

Selain itu, sejumlah daerah menjalankan program insentif. Pemerintah Kota Hohhot di Provinsi Mongolia Dalam membagikan susu gratis setiap hari bagi ibu yang melahirkan setelah 1 Maret. Para ibu juga menerima voucher elektronik senilai 3.000 yuan dari perusahaan susu nasional.

Pemerintah pusat turut memberikan keringanan berupa pembebasan pajak layanan pengasuhan anak, mulai dari penitipan anak, taman kanak-kanak, layanan lansia, disabilitas, hingga layanan terkait pernikahan. Kebijakan ini mulai diterapkan sejak Januari.

Sementara itu, Kota Ningbo di China timur menawarkan kupon pernikahan senilai 1.000 yuan per kupon, dengan total delapan kupon, untuk mendorong kaum muda menikah dan memiliki anak.

Dalam satu dekade terakhir, angka kelahiran China terus menurun meski sempat naik tipis pada 2024 menjadi 6,77 kelahiran per 1.000 penduduk. Salah satu faktor utama rendahnya minat memiliki anak adalah tingginya biaya hidup dan pengasuhan.

Baca Juga :  Mantan Kepala Bank Sentral China Divonis Hukuman Mati

Laporan YuWa Population Research Institute pada 2024 menyebutkan, biaya membesarkan satu anak di China hingga usia 17 tahun bisa mencapai sekitar Rp1,24 miliar, menjadikannya salah satu yang termahal di dunia.