Pintasan.co – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Muslim di berbagai daerah di Pulau Jawa mengenal tradisi Megengan. Tradisi ini hidup kuat di wilayah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, menjadi penanda kegembiraan menyambut bulan penuh berkah. Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah Megengan termasuk sunnah, atau justru bid’ah?
Apa Itu Megengan?
Kata “Megengan” berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan, merujuk pada makna menahan diri dari hawa nafsu saat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Tradisi ini berkembang sejak masa dakwah para Wali Songo sebagai media syiar Islam yang membaur dengan budaya lokal.
Megengan bukan ritual ibadah yang berdiri sendiri, melainkan tradisi sosial-keagamaan sebagai ungkapan syukur dan persiapan spiritual menyambut Ramadan.
Sunnah atau Bid’ah?
Dalam perspektif syariat, perlu dibedakan antara ibadah mahdhah (ibadah murni yang tata caranya ditentukan secara rinci dalam dalil) dan ibadah ghairu mahdhah atau muamalah (aktivitas sosial yang bernilai ibadah bila diniatkan karena Allah).
- Tidak Ada Dalil Khusus tentang Megengan
Memang tidak ada dalil khusus dalam Al-Qur’an maupun hadis yang menyebut tradisi Megengan secara spesifik. Namun, bukan berarti setiap hal yang tidak dilakukan Nabi otomatis bid’ah tercela.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Hadis ini menjadi dasar bahwa perkara baru dalam ibadah yang mengubah atau menambah tata cara ibadah yang telah ditetapkan adalah tertolak.
Namun para ulama juga membedakan antara bid’ah dalam urusan ibadah mahdhah dan perkara baru dalam urusan dunia yang mengandung kebaikan.
- Pandangan Ulama tentang Bid’ah Hasanah
Ulama seperti Muhammad ibn Idris al-Shafi’i membagi bid’ah menjadi dua:
Bid’ah mahmudah (baik): yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Bid’ah madzmumah (tercela): yang bertentangan dengan dalil syar’i.
Jika Megengan diisi dengan doa, sedekah, silaturahmi, dan pengajian tanpa meyakini adanya kewajiban khusus atau keutamaan khusus yang tidak berdasar dalil, maka ia termasuk tradisi (adat) yang mubah dan bahkan bisa bernilai ibadah.
- Dalil Anjuran Bergembira Menyambut Ramadan
Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
(QS. Yunus: 58)
Bergembira menyambut Ramadan sebagai rahmat Allah tentu merupakan hal yang dianjurkan selama tidak melanggar syariat.
Ragam Kegiatan dalam Tradisi Megengan
Megengan di berbagai daerah memiliki bentuk yang beragam, namun umumnya mencakup kegiatan berikut:
- Doa Bersama dan Tahlil
Masyarakat berkumpul di masjid atau rumah tokoh masyarakat untuk membaca tahlil, doa keselamatan, dan memohon keberkahan menjelang Ramadan. - Sedekah dan Berbagi Makanan
Biasanya terdapat tradisi membawa makanan seperti apem (kue tradisional) yang kemudian dibagikan kepada tetangga. Ini menjadi simbol saling memaafkan dan mempererat ukhuwah. - Ziarah Kubur
Sebagian masyarakat melakukan ziarah ke makam keluarga untuk mendoakan orang tua dan leluhur sebelum Ramadan. - Pengajian dan Tausiyah
Beberapa daerah mengisi Megengan dengan ceramah agama tentang persiapan menyambut Ramadan: memperbaiki niat, membersihkan hati, dan meningkatkan ibadah.
Megengan bukan sunnah dalam arti ibadah yang dicontohkan secara khusus oleh Nabi ﷺ. Namun, juga tidak otomatis menjadi bid’ah tercela selama:
Tidak diyakini sebagai ibadah wajib atau memiliki keutamaan khusus tanpa dalil.
Tidak mengandung unsur kemaksiatan atau syirik.
Diisi dengan kegiatan yang dibenarkan syariat seperti doa, sedekah, dan silaturahmi.
Dengan demikian, Megengan lebih tepat dipahami sebagai tradisi Islam Nusantara yang bersifat kultural dan bernilai ibadah bila diniatkan untuk kebaikan.
Yang terpenting bukan pada seremoni, tetapi pada kesiapan hati menyambut Ramadan: memperbanyak taubat, mempererat ukhuwah, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
