Pintasan.co, Jakarta – Komite Mahasiswa dan Pemuda Reformasi (KMPR) memberikan dukungan dan mengapresiasi PT. Pertamina (Persero) atas kesiapannya untuk memberikan pelayanan yang optimal terhadap masyarakat menjelang hari raya dan komitmennya untuk menjaga ketahanan stok di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pelayanan Pertamina Menjelang Hari Raya Idul Fitri
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang melibatkan jutaan pemudik seluruh Indonesia, PT Pertamina (Persero) telah berkomitmen akan memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat dan memastikan ketersediaan stok BBM dan energi lainnya tetap aman dan terjangkau.
Dengan strategi penguatan stok, optimalisasi distribusi, dan penyediaan layanan yang memadai, Pertamina berupaya menjamin kelancaran perjalanan dan kenyamanan seluruh masyarakat yang merayakan hari raya.
VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa stok energi nasional dalam kondisi aman, siap melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode mudik Lebaran 2026.
“Kami telah meningkatkan pasokan stok energi untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi pada Lebaran ini, terutama pada arus pergi dan arus balik. Stok BBM, LPG, dan Avtur sudah aman dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujar Baron dalam konferensi pers Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri (Satgas Rafi) di Graha Pertamina, Jakarta.
Salah satu langkah strategis Pertamina yaitu diluncurkannya Satuan Tugas (Satgas) Ramadan dan Idulfitri (RAFI) yang bertugas memantau ketersediaan energi dan kualitas pelayanan selama 24 jam penuh sepanjang periode Ramadan dan Idulfitri. Selama masa Satgas RAFI, seluruh jajaran Pertamina Group akan siaga 24 jam penuh, mengawasi dan merespons setiap kebutuhan energi masyarakat di seluruh pelosok negeri.
Sementara itu, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Pertamina telah menyediakan layanan energi pendukung di jalur-jalur potensial, baik di jalur tol, jalur wisata, maupun jalur lintas utama yang menjadi titik keramaian pemudik.
Layanan energi pendukung yang dimaksud meliputi SPBU 24 Jam sebanyak 2.074 unit, Agen LPG Siaga sebanyak 6.300 unit, 96 unit Layanan BBM Modular, serta Layanan Kios Pertamina Siaga di 64 lokasi. Selain itu, Pertamina menyediakan layanan tambahan seperti motoris untuk kondisi darurat di jalur padat serta fasilitas Serambi MyPertamina sebagai tempat istirahat pemudik di sejumlah rest area, bandara, dan lokasi wisata.
Senada dengan itu, Ketua Umum KMP – Reformasi, Gunawan Al Bima, memberikan dukungan penuh terhadap kesiapan PT. Pertamina dalam melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
“ Kami mendukung dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya untuk segala kesiapan PT. Pertamina. Kesiapan ini menjadi kunci penting dalam mewujudkan pelayanan yang aman, tertib, dan penuh makna,” ujarnya, pada Kamis, Jakarta (5/3/2026).
Upaya Menjaga Ketahanan Stok di Tengah Isu Geopolitik Iran
Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 menandai eskalasi geopolitik paling serius sejak perang Rusia-Ukraina 2022. Operasi yang diberi sandi Operation Epic Fury itu tidak hanya memicu serangan balasan Iran, tetapi juga pengumuman penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia atau hampir 20 juta barel per hari.
Dalam hitungan jam, risiko geopolitik melonjak tajam dan pasar global bersiap menghadapi volatilitas ekstrem.
Berdasarkan data yang dibeberkan oleh PT. Pertamina (Persero), Indonesia mengimpor minyak mentah sebesar 19% yang melewati Selat Hormuz Jika Iran memberlakukan blokade terhadap selat tersebut, maka harga minyak mentah internasional akan naik.
Bagi Indonesia, hal ini akan berdampak pada pembengkakan biaya produksi dan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri. Hitung-hitungannya, selisih antara harga pokok yang naik dan harga jual BBM yang ditanggung sebagai subsidi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Singkat kata, efeknya akan menghantam peningkatan besaran subsidi BBM nasional yang mempengaruhi ketahanan fiskal pemerintah.
Sementara itu, merespon dinamika geopolitik tersebut, Pertamina menunjukkan komitmennya untuk menjaga ketahanan energi nasional. Dengan langkah-langkah mitigasi yang komprehensif, diversifikasi sumber pasokan, dan optimalisasi operasional kilang domestik, Pertamina berupaya untuk memastikan bahwa masyarakat Indonesia tetap memiliki akses yang aman dan terjangkau terhadap energi yang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dengan komitmen yang kuat dan langkah-langkah strategis yang tepat, Pertamina siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di pasar energi global.
Ketua Umum KMP-Reformasi menilai bahwa, upaya Pertamina ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi nasional, yakni dengan mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan produksi dalam negeri, Indonesia dapat memperkuat posisinya di pasar energi global dan mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan. Pertamina akan terus berperan sebagai tulang punggung energi Indonesia dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui penguatan mitigasi risiko, koordinasi lintas lembaga, serta pengawasan menyeluruh terhadap unit bisnis strategis, Pertamina telah menegaskan komitmennya dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika global. Langkah proaktif ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memastikan pasokan energi Indonesia tetap stabil, aman, dan berkelanjutan,” Ujarnya.
Sebagai penutup, KMP- Reformasi memberikan catatan, bahwa fenomena geopolitik dan geoekonomi yang dimainkan oleh Iran ini perlu menjadi atensi dan catatan kritis bagi para pemangku kebijakan di Indonesia.
Setidaknya ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi.
- Pertama, sebagai negara importir minyak mentah dunia, Indonesia akan terdampak secara langsung oleh ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
- Kedua, Indonesia perlu menjadikan strategi perang yang dimainkan oleh Iran sebagai pembelajaran penting di masa mendatang. Untuk itulah, dinamika geopolitik yang terjadi bukan soal siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi seberapa hebat kita mengelolanya untuk mewujudkan kemandirian energi.
