Pintasan.co, Jakarta – Hubungan Amerika Serikat dan Rusia kembali memanas menyusul tindakan angkatan bersenjata AS yang memblokir perjalanan kapal tanker minyak berbengdera Rusia di wilayah Atlantik Utara. Kejadian ini berlangsung bersamaan dengan kebijakan keras pemerintahan Presiden Donald Trump dalam memberikan tekanan kepada Venezuela lewat sanksi embargo minyak.

Media The Hill melaporkan bahwa pasukan AS, dibantu oleh angkatan bersenjata Inggris, menjalankan operasi pemberhentian dan inspeksi terhadap kapal tanker Bella-1 sekitar jam 07.00 waktu lokal. Kapal itu sedang melintasi jalur perairan internasional di antara Skotlandia dan Islandia dengan dikawal kapal selam Rusia.

Melalui Kementerian Transportasi, pemerintah Rusia menentang tindakan ini dan menyatakan bahwa penggunaan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar resmi di negara lain melanggar hukum internasional. Di AS sendiri, beberapa anggota Senat mengkritik langkah tersebut. Senator Richard Blumenthal memberikan peringatan bahwa tindakan ini bisa meningkatkan risiko eskalasi konflik antara kedua negara.

Rusia diketahui sebagai sekutu strategis pemerintahan eks Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Kedua negara menggunakan jaringan kapal tanker tertentu, yang sering disebut armada gelap, untuk mengelak dari sanksi internasional guna menjaga jalur ekspor minyak.

Pengejaran terhadap Bella-1 telah berlangsung sejak pertengahan Desember sebagai bagian dari strategi AS untuk menghentikan distribusi minyak Venezuela yang dikenakan sanksi. Selama pengejaran berlangsung, pihak berwenang Rusia mengonfirmasi bahwa kapal tersebut mulai mengibarkan bendera Rusia pada 24 Desember.

Mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Tom Shannon, berpendapat kebijakan ini menunjukkan kesungguhan Washington dalam membatasi perdagangan minyak Venezuela yang dianggap ilegal. Namun, ia memperingatkan bahwa langkah ini berisiko memicu ketegangan baru antara AS dengan Rusia, China, Iran, serta negara lain yang mendapat keuntungan dari jalur perdagangan tersebut.

Baca Juga :  Helikopter Jatuh di Malaysia, Satu WNI Tewas Terkena Bilah Rotor

Hampir bersamaan, aparat AS juga menahan satu kapal tanker lain di wilayah Karibia. Dengan penangkapan ini, total kapal tanker yang ditahan AS dalam beberapa bulan terakhir mencapai empat unit. Pemerintah AS menyatakan kru kapal Bella-1 berpotensi menghadapi tuntutan hukum, sementara Rusia mendesak agar kru kapal diperlakukan sesuai prinsip kemanusiaan.

Berdasarkan data pelacakan maritim, Bella-1 sempat tidak terdeteksi oleh sistem pemantauan selama hampir dua pekan sebelum terdeteksi kembali pada 2 Januari dan bergerak ke arah timur laut Atlantik. Kapal itu diduga menuju pelabuhan di wilayah Arktik Rusia. Permintaan Moskow agar Washington menghentikan operasi pengejaran dilaporkan tidak mendapat tanggapan.

Pemerintah AS menegaskan kebijakan pemblokiran terhadap minyak Venezuela yang dikenai sanksi tetap berlaku di seluruh dunia. Beberapa senator AS berpendapat kebijakan ini tidak hanya berdampak pada Venezuela, tetapi juga berpotensi mengurangi sumber dana Rusia dalam konflik yang tengah berlangsung di Ukraina.

Keterlibatan militer Inggris dalam operasi ini juga menunjukkan kuatnya koordinasi antara Washington dan London dalam pelaksanaan sanksi internasional, berbeda dengan beberapa operasi sebelumnya yang dilakukan AS secara sendiri di wilayah Karibia.