Pintasan.co, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah Indonesia guna mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi bersamaan dengan musim kemarau tahun 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fatani, mengatakan arahan tersebut diberikan Presiden untuk meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah menghadapi potensi kekeringan sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
“Bapak Presiden memberikan instruksi kepada BMKG agar memperkuat operasi modifikasi cuaca di Indonesia agar kita dapat mengantisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Faisal di Senayan, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Faisal, operasi modifikasi cuaca akan dilaksanakan secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Fokus utamanya adalah menjaga ketersediaan air di bendungan, embung, daerah tangkapan air, serta sumber-sumber air strategis lainnya yang berperan penting bagi kebutuhan irigasi, air bersih, dan energi.
“OMC ini akan dilakukan secara bertahap di seluruh Indonesia,” katanya.
BMKG memprediksi fenomena El Nino mulai aktif pada Juni 2026 dengan intensitas moderat hingga kuat dan diperkirakan berlangsung hingga Maret–Mei 2027. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata kondisi iklim selama tiga dekade terakhir.
“Yang perlu kita waspadai adalah pada Juni, Juli, Agustus hingga puncak musim kemarau sekitar Agustus dan September. Kondisi ini dapat membuat kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir,” ungkap Faisal.
Ia menjelaskan, langkah antisipasi diperlukan untuk memastikan cadangan air nasional tetap terjaga, terutama dalam mendukung program swasembada pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Menurut Faisal, Indonesia saat ini memiliki sekitar 220 bendungan yang berfungsi sebagai sumber irigasi pertanian, penyedia air baku, serta pembangkit listrik tenaga air. Karena itu, ketersediaan air harus dijaga agar berbagai sektor strategis tetap berjalan optimal selama musim kemarau.
“Nanti ketika musim kemarau terjadi tentunya kita harus siap. Jika ingin mencapai swasembada pangan, maka bendungan-bendungan yang kita miliki harus mampu mengairi lahan pertanian, menyediakan air minum, hingga mendukung pembangkit listrik,” ujarnya.
Sebagai contoh, BMKG sebelumnya telah melakukan operasi modifikasi cuaca secara intensif di kawasan Danau Toba bersama Perum Jasa Tirta I dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga tinggi muka air danau agar tetap stabil sehingga kebutuhan listrik, irigasi, dan air bersih tetap terpenuhi selama musim kemarau.
“Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk memastikan permukaan air tetap berada dalam kondisi normal sehingga pembangkit listrik, kebutuhan air minum, serta irigasi dapat terus berjalan,” kata Faisal.
Ia menambahkan, biaya pelaksanaan operasi modifikasi cuaca relatif lebih kecil dibandingkan manfaat ekonomi yang dihasilkan, terutama dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian, energi, dan ketahanan air nasional.
BMKG juga mencatat wilayah yang berpotensi mengalami dampak El Nino paling besar berada di bawah garis khatulistiwa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sementara wilayah Sumatera bagian utara dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami dampak signifikan.
Pemerintah berharap langkah mitigasi melalui operasi modifikasi cuaca dapat mengurangi risiko kekeringan, menjaga produksi pangan nasional, serta memastikan pasokan air dan energi tetap aman selama periode El Nino berlangsung.
