Pintasan.co – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya harus menempuh jalan keadilan sebagai fondasi utama untuk melindungi rakyat dari berbagai ancaman, baik yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu, 31Januari 2026 di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berkembang.
Pezeshkian menekankan pentingnya membedakan antara aksi penyampaian aspirasi secara damai dengan upaya yang sengaja diarahkan untuk memecah belah persatuan nasional. Ia menilai bahwa suara masyarakat perlu didengar, selama disampaikan tanpa kekerasan.
“Kita berkewajiban untuk mendengarkan tuntutan para pengunjuk rasa yang menyampaikan aspirasinya secara damai,” ujar Pezeshkian, seraya mengingatkan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang mencoba memanfaatkan situasi tersebut untuk menciptakan perpecahan di tengah masyarakat, sebagaimana dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim.
Menurutnya, kedaulatan rakyat harus diperkuat dengan melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Namun, hal itu harus dibarengi dengan kewaspadaan terhadap upaya-upaya yang berpotensi mengubah protes damai menjadi tindakan provokatif dan hasutan.
Presiden Iran juga menyinggung adanya campur tangan pihak asing. Ia menilai bahwa musuh-musuh lama Iran, termasuk Israel dan sekutu-sekutunya di Barat, secara konsisten berusaha menunggangi tuntutan sosial dengan mendorong eskalasi menuju kekerasan, perusakan fasilitas umum, hingga serangan terhadap aparat dan institusi layanan publik.
“Tindakan kekerasan, pembunuhan, maupun penghancuran properti negara tidak memiliki tempat dalam bentuk protes sipil apa pun,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pezeshkian meminta aparat pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja dan sikap mereka dalam melayani masyarakat. Menurutnya, pelayanan yang adil dan tulus merupakan benteng utama untuk menutup celah bagi pihak-pihak yang ingin menanamkan kebencian dan memicu instabilitas.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Tehran dan Washington dalam beberapa pekan terakhir. Situasi memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” AS tengah bergerak menuju kawasan Iran, sembari mendesak Tehran untuk kembali ke meja perundingan.
Menanggapi hal tersebut, para pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap bentuk serangan akan dibalas dengan respons yang cepat dan menyeluruh. Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan tetap membuka peluang dialog, selama dilakukan dengan prinsip yang adil, seimbang, dan tanpa tekanan.
