Pintasan.co, Jakarta – Unggahan yang ramai di media sosial memicu dugaan penggunaan senjata sonik oleh pasukan Amerika Serikat dalam operasi militer di Venezuela untuk menangkap mantan Presiden Nicolas Maduro. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membagikan informasi tersebut melalui platform X dan menarik perhatian publik.

Kisah itu muncul dari pengakuan seorang pria yang mengaku sebagai penjaga pangkalan militer di Caracas sekaligus saksi mata operasi. Dia mengatakan sistem radar Venezuela tiba-tiba lumpuh sesaat sebelum pasukan AS melancarkan serangan. Setelah itu, banyak drone terlihat beterbangan di udara.

Dia menilai pasukan AS memiliki teknologi tempur yang jauh lebih unggul dibanding aparat keamanan Venezuela. Menurutnya, pasukan Amerika bergerak cepat dan presisi sehingga pihak Venezuela tidak mampu memberikan perlawanan berarti.

“Mereka tidak seperti apa pun yang pernah kami lawan sebelumnya. Jumlah kami ada ratusan, tetapi tidak punya peluang. Pasukan AS menembak dengan presisi dan kecepatan yang luar biasa, rasanya setiap prajurit menembakkan 300 peluru per menit,” jelasnya, yang dilansir dari Beritasatu.com.

Pria tersebut juga mengklaim pasukan AS menggunakan senjata berbasis gelombang suara untuk melumpuhkan penjaga pangkalan. Senjata itu menyebabkan sejumlah personel mengalami mimisan hingga muntah darah. Dia menyebut operasi tersebut hanya melibatkan sekitar 20 personel AS dan tidak menimbulkan korban di pihak Amerika.

Sampai berita ini terbit, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut. Pentagon juga belum menjawab pertanyaan terkait dugaan penggunaan senjata sonik atau senjata berbasis energi dalam operasi militer AS di Venezuela.

Baca Juga :  Penyitaan Kapal Tanker Rusia oleh AS Picu Eskalasi Ketegangan