Pintasan.co, Sanana – Kata “Dad Hia Ted Sua (Bersatu Bagun Sula)” bukan hanya sebuah frasa tanpa makna, atau selogan tanpa arti, tetapi iya adalah sebuah nilai, sebuah ikatan, dan sebuah komitmen bersama dalam menjaga “Hai Poa Bai (tanah tercinta)”.

Dari cerita petuah. Dahulu, ketika satu masalah tertimpa “Hai Sua (Tanah Sula), itu bukan masalah personal, kolompok atau suku tertentu, melainkan satu masalah kolektif atau bersama (masyarakat Sula) yang harus diselesaikan secara bersama-sama pula.

Kita bisa lihat, Tahun 1959 adalah tahun bersejarah, dimana tapal perjuangan diletakkan oleh para leluhur. Ketika kesejahteraan rakyat menjadi mimpi bersama, ketika kecerdasan generasi menjadi cita-cita bersama, maka tak ada pilihan lain selain memperjuangkan DOB. Lahirlah kemudian, orang-orang hebat seperti, Kasim Marua P, Halim Soamole dan lainya dalam sebuah perjuangan yang dinaungi lembaga yang namanya Himpunan Mahasiswa Sula (HPMS).

Leluhur kita berjuang dengan hati yang tulus dan ikhlas. Meninggalkan sejarah yang begitu heroik. Mereka menghibahkan diri untuk negeri meskipun darah, krigat dan nyawa jadi taruhannya. Meskipun diasingkan di Boven Digoel, mereka tidak tunduk diam. Mereka melawan. Adalah sebuah spirit sejarah yang patut dicontoh. Sehingga kita dapat melihat masalah yang dihadapi oleh negeri ini adalah masalah bersama.

Hari-hari ini, suara Masyarakat Bumi Mangoli menolak 10 IUP di Pulau Mangoli mulai bergema, seakan-akan memberi alarm kepada Kita (seluruh masyarakat Sula) kalau Pulau Mangoli tidak sedang baik-baik saja.

Pulau Sulabesi tanpa Pulau Mangoli bukanlah Sula, keduanya menyatu baru bisa disebut Kepulauan Sula. Untuk itu, perjuangan penolakan 10 IUP di Pulau Mangoli harus dilihat sebagai satu masalah bersama yang harus diperjuangkan secara bersama-sama pula.

Baca Juga :  Reformasi Birokrasi Pemprov Maluku Utara Tidak Bisa Ditawar-tawar

Kita, rakyat Sula, Mahasiswa dan Media tidak harus buta melihat ancaman IUP dikemudian hari di Pulau Mangoli, baik itu kerusakan lingkungan sampai konflik agraria. Kita tidak harus tuli mendengar jeritan Aliansi masyarakat Bumi Mangoli yang berjuang sendiri, sambil menunggu banjir membunuh masyarakat Mangoli, baru kita datang dengan simpati, membawa sebungkus Mi Instan dan sebutir gandum.

Jangan tinggalkan Masyarakat Bumi Mangoli berjuang sendiri. Sebab, Yang mereka hadapi adalah kekuatan besar dengan bekingan besar.

Atas nama Hirilisasi, tentu korporasi akan di jaga Pemerintah dan di kawal DPR dengan sebabaik baiknya. Korporasi bisa menjadi mesin ATM untuk menyandara mereka yang pragmatis sehingga dengan mudah bisa mengadaikan tanah sendiri. Korporasi adalah satu kekuatan besar yang hanya bisa ditaklukkan dengan gelombang penolakan besar pula.

Untuk itu, semoga saja masih ada mahasiswa kritis idialis yang simpatik dengan suara masyarakat Bumi Mangoli. Begitu juga, semoga ada media yang konsisten mempublikasikan suara masyarakat Bumi Mangoli.

Kita adalah anak cucu dari para pejuang hebat, darah kita mengalir idialisme pejuang. Mental kita terbentuk dari militansi para leluhur. Mari bersama-sama, kita suarakan Tolak 10 IUP Pulau Mangoli, untuk kita, dan generasi selanjutnya.

Penulis : Arman Buton (Pemuda Sula)