Pintasan.co, JakartaSurvei terbaru dari Rumah Politik Indonesia (RPI) mengungkap bahwa mayoritas masyarakat Indonesia percaya reformasi budaya Polri akan terwujud pada 2026.

Direktur Eksekutif RPI, Fernando Emas, mengatakan optimisme publik ini muncul karena masyarakat melihat konsistensi Polri dalam bertransformasi. Buktinya, Polri membentuk Tim Transformasi dan berani melakukan koreksi internal. “Publik melihat Polri menertibkan anggotanya yang melanggar. Mereka juga memperhatikan transparansi tata kelola dan modernisasi layanan sebagai bukti keseriusan Polri,” jelas Fernando dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (13/1).

Survei yang dirilis Senin (12/1) itu menunjukkan 76,2% responden merasa optimis transformasi akan terjadi. Sebanyak 19,9% kurang optimis, dan 3,9% tidak tahu atau tidak menjawab. Mayoritas publik (67,8%) juga meyakini Polri akan berani mengoreksi diri secara internal di tahun 2026.

Survei mencatat sejumlah keyakinan positif lainnya:

  1. 72,2% yakin akan terjadi pergeseran dari budaya militeristik ke kepolisian sipil.
  2. 69,2% optimis Polri akan lebih berorientasi pada pelayanan publik.
  3. 75,9% percaya kepemimpinan Polri akan menjadi teladan.
  4. 65,6% yakin Polri akan responsif menangani kejahatan siber dan transnasional.
  5. 73,1% optimis Polri akan memperkuatĀ community policing.

Fernando menilai model kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dengan agenda PRESISI telah menjadikan transformasi budaya sebagai fondasi utama. Namun, ia menyarankan Polri perlu memperbaiki penanganan perkara agar kepercayaan publik semakin kuat.

Survei ini melibatkan 1.200 responden dari 30 provinsi pada 2-9 Januari 2026. Metode pengambilan sampelnya adalah multistage random sampling dengan margin of error ±2,8%.

Baca Juga :  Dapat Laporan BPBD DKI, Pramono: Ingatkan Potensi Banjir Rob Terjang Jakarta Jelang Lebaran