Pintasan.co, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah untuk menargetkan para pemimpin Iran dalam rencana serangan militer Amerika Serikat. Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut Trump membuka kemungkinan menyerang para pemimpin politik dan pejabat keamanan Iran yang dianggap bertanggung jawab atas kematian ribuan orang dalam gelombang demonstrasi di negara itu.

Menurut laporan CNN, opsi yang masuk dalam pembahasan meliputi serangan udara yang secara khusus menyasar para elite Iran serta pejabat keamanan. Selain itu, Trump juga kembali memasukkan fasilitas nuklir dan lembaga-lembaga pemerintahan Iran sebagai target potensial.

Meski belum mengambil keputusan akhir, Trump disebut berniat melancarkan operasi militer yang lebih besar dibanding sebelumnya. Kehadiran kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah memperkuat kesiapan tersebut.

Sejak awal pekan, kapal induk USS Abraham Lincoln bersama kapal perusak berpeluru kendali telah beroperasi di perairan Timur Tengah. Amerika Serikat juga mengirim satu skuadron jet tempur F-15E Strike Eagle ke wilayah tersebut.

Melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (28/1/2026), Trump kembali mengancam Iran dan mendesak Teheran untuk kembali berunding serta mencapai kesepakatan terkait program nuklir. Ia memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih berat dibanding tahun lalu jika menolak negosiasi.

Para sumber menyebut Trump frustrasi karena Iran tidak melanjutkan pembicaraan nuklir, meskipun kedua pihak sempat melakukan kontak awal pada awal bulan. Seorang sumber mengatakan pembahasan soal pertemuan langsung sempat muncul, tetapi tidak pernah terwujud. Sumber lain menilai ancaman militer Trump justru menghambat terjadinya negosiasi serius.

Menanggapi tekanan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan diplomasi tidak akan berhasil jika disertai ancaman militer. Ia menilai negosiasi hanya dapat berjalan efektif tanpa tekanan, tuntutan berlebihan, dan isu yang tidak rasional.

Baca Juga :  Kebakaran Picu Ledakan Besar di Pelabuhan Iran, Korban Luka Tembus 500 Orang

Seorang sumber dari AS menyebut Trump semakin kesal karena Iran menolak menghentikan pengayaan uranium, menutup akses bagi badan pengawas nuklir PBB, serta menolak membatasi jangkauan rudal balistiknya. Iran memandang tuntutan Trump terlalu luas karena pembahasan seharusnya hanya berfokus pada program nuklir.

Meski negosiasi menemui jalan buntu, Trump disebut masih membuka peluang dialog selama Iran memahami dan memenuhi syarat-syarat yang ia ajukan. Seorang pejabat AS menyatakan Washington tetap bersedia berdiskusi jika Teheran mau mengikuti ketentuan tersebut.

Trump juga mulai memperlihatkan tujuan yang lebih luas, yakni menghancurkan program nuklir dan rudal Iran serta memanfaatkan momentum untuk melemahkan bahkan menggulingkan rezim teokratis di Teheran. Pekan lalu, ia mengisyaratkan keinginannya agar Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tersingkir dari kekuasaan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai rezim Iran kini berada dalam kondisi yang lebih lemah dibanding sebelumnya. Namun, sejumlah sumber mengingatkan bahwa melemahnya pemerintah tidak otomatis menjatuhkan rezim, mengingat para pengganti Khamenei kemungkinan tetap berasal dari kelompok garis keras.

Trump menyadari bahwa operasi militer terhadap Iran jauh lebih kompleks dibandingkan aksi militer AS di Venezuela. Karena itu, ia mengerahkan kekuatan militer yang lebih besar ke kawasan tersebut. Iran sendiri memiliki sistem pertahanan udara, rudal balistik, drone tempur, serta armada jet tempur tua namun berpengalaman.

Meski kemampuan militernya tertinggal dari Amerika Serikat, banyak pihak menilai kekuatan Iran tetap signifikan dan tidak bisa diremehkan. Rubio mengakui bahwa menggulingkan rezim yang telah lama berkuasa membutuhkan perhitungan matang dan strategi yang sangat hati-hati.