Pintasan.co, Purwokerto – Siapa bilang limbah tidak bernilai seni, Sekelompok dosen Universitas Amikom Purwokerto berhasil membuktikannya.

Mereka mengadakan pelatihan membuat wayang dari kertas semen bekas dengan memadukan seni tradisional, inovasi teknologi, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan yang digelar di Sanggar Puspo Dahono ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Amikom, serta didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) tahun 2025.

Ketua pelaksana, Hellik Hermawan, menyampaikan bahwa pelatihan ini tidak sekadar mengajarkan keterampilan membuat wayang, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan peluang ekonomi kreatif yang ramah lingkungan.

“Pelatihan ini bukan hanya soal membuat wayang, tetapi juga tentang memberikan nilai baru pada bahan yang dianggap limbah. Harapannya, masyarakat bisa melihat bahwa tradisi dan inovasi bisa berjalan beriringan,” ujarnya. 

Peserta diajarkan seluruh proses pembuatan, mulai dari desain pola, pemotongan menggunakan teknologi laser, perakitan, hingga teknik pewarnaan. 

Hasilnya, tokoh-tokoh wayang dengan ornamen rumit tetap dapat diwujudkan, meski berbahan dasar limbah.

Dalang senior sekaligus Ketua Sanggar Puspo Dahono, Ki Kabul Idamanto, mengapresiasi inisiatif ini.

“Kegiatan ini membuktikan wayang bisa terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya, bahkan bisa menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat,” tuturnya.

Sebagai wujud dukungan berkelanjutan, tim dosen turut memberikan hibah seperangkat alat Cutting and Coloring Kit kepada sanggar, yang bisa digunakan untuk mendukung produksi wayang secara mandiri dan berkesinambungan.

Melalui pendekatan yang memadukan teknologi dengan seni tradisional, pelatihan ini tidak hanya menjaga kelestarian budaya dari ancaman kepunahan, tetapi juga menciptakan peluang baru dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Baca Juga :  Stadion Mandala Krida Yogyakarta