Pintasan.co, Jetis – Kota Yogyakarta, yang diakui sebagai Kota Batik Dunia oleh Dewan Kerajinan Dunia pada 18 Oktober 2014, terus berkomitmen untuk melestarikan dan mempromosikan batik sebagai warisan budaya.
Pada Senin (14/10), panitia mengadakan seminar nasional bertema ‘Sustainabilitas Budaya melalui Inovasi’ di Hotel Harper Malioboro. Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Batik Nasional 2024.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Yogyakarta, Kadri Renggono, mengungkapkan bahwa batik merupakan bagian integral dari identitas masyarakat Yogyakarta.
“Seni membatik yang kaya akan nilai-nilai tradisi ini tidak hanya dipandang sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai identitas lokal dan kebanggaan masyarakatnya. Dengan pengakuan di kanca Internasional ini, Yogyakarta semakin memperkuat posisinya sebagai pusat batik di Indonesia,” ujarnya.
Kadri juga menyoroti tantangan pelestarian batik di kalangan generasi muda, terutama di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi. Untuk mengatasi hal ini, Pemkot Yogyakarta telah mengintegrasikan seni membatik dalam kurikulum sekolah, mengajarkan teknik dasar membatik kepada anak-anak sejak dini.
Pemkot Yogyakarta meluncurkan Gerakan Jogja Membatik yang melibatkan pelajar dan pekerja seni. Selain itu, mereka menyelenggarakan berbagai lomba desain busana dan fashion show batik. Pemkot juga memperkenalkan mesin batik berteknologi CNC yang menjamin kualitas produksi batik.
Kepala Bagian Umum Museum Batik dan Cagar Budaya, Brahmantara, menekankan pentingnya kolaborasi untuk mengatasi kendala dalam pelestarian batik. Ia menjelaskan bahwa edukasi dan riset menjadi kunci untuk mendukung regenerasi batik di Indonesia.
Sementara itu, Nancy Margried yang merupakan CEO Batik Fractal menyatakan bahwa industri kreatif harus melihat membatik sebagai masa depan yang cerah. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi digital dalam proses membatik untuk meningkatkan potensi setiap daerah.
“Batik merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Kami bersama batik fractal akan terus menggali potensi yang ada di setiap wilayah di Indonesia. Sehingga, batik memiliki ciri khas di masing-masing daerah dengan metode digital yang saat ini sudah diikuti ribuan pembatik yang tergabung dalam batik fractal,” tutur Nancy.
Seminar ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk pengrajin batik dan akademisi. Mereka bersama-sama berupaya mendukung perkembangan industri batik di Indonesia.
Dengan berbagai inisiatif ini, Yogyakarta berkomitmen untuk menjaga statusnya sebagai Kota Batik Dunia dan memastikan warisan budaya ini terus hidup di tangan generasi muda.