Pintasan.co – Pemerintah terus mendorong percepatan pengembangan Proyek Strategis Nasional Blok Masela di Maluku sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, usai kunjungan kerja bersama Presiden Prabowo Subianto ke Jepang.

Bahlil menyampaikan bahwa dalam kunjungan tersebut, pemerintah membawa dua agenda utama, yakni percepatan investasi transisi energi serta kelanjutan proyek migas Blok Masela yang telah lama tertunda.

“Blok Masela ini kan sudah 27 tahun dikuasai konsesinya, dan kita masih ingat 5-10 tahun lalu perdebatannya adalah antara di laut atau di darat. Atas arahan Bapak Presiden di tahun 2025, kami melakukan pertemuan intensif dan alhamdulillah sudah selesai total project-nya 20,9 miliar dolar AS,” kata Bahlil.

Ia menjelaskan, nilai investasi awal proyek tersebut mencapai 20,9 miliar dolar AS, termasuk penerapan teknologi carbon capture and storage (CCS). Namun, kondisi geopolitik global diperkirakan dapat mendorong peningkatan nilai investasi hingga sekitar Rp300 triliun pada tahap implementasi.

Menurut Bahlil, pemerintah kini fokus pada percepatan realisasi proyek, mengingat potensi besar yang dimiliki Blok Masela sebagai salah satu lapangan gas raksasa di Indonesia.

“Tahun ini, 2026 tender EPC-nya akan kita lakukan, FID-nya (final investment decision) juga akan selesai dan kita minta untuk dipercepat. Kenapa ini harus dipercepat, karena ini penghasil migas salah satu yang giant 1.200 MM. Kalau ini mampu kita lakukan maka ketahanan energi kita di sektor migas itu akan semakin kuat,” jelas Bahlil.

Dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 1.200 juta kaki kubik per hari (MMscfd), proyek ini dinilai strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri gas global sekaligus memenuhi kebutuhan energi domestik.

Baca Juga :  Yusril Ungkap RI Buka Wacana Pulangkan Hambali dari Penjara Guantanamo

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipatif terkait penyerapan gas dalam negeri. Jika pasar ekspor belum optimal, gas dari Blok Masela akan diarahkan untuk kebutuhan domestik melalui skema hilirisasi energi.

Dalam hal ini, Bahlil mengusulkan agar hasil produksi gas dapat diserap oleh Danantara melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk guna memperkuat distribusi dan pemanfaatan energi di dalam negeri.

Langkah percepatan ini diharapkan mampu menjadikan Blok Masela sebagai salah satu tulang punggung ketahanan energi nasional di masa mendatang.