Pintasan.co – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pasukan AS akan segera ditarik dari Iran dalam waktu dekat.
Pernyataan ini menandai potensi berakhirnya keterlibatan militer langsung Washington dalam konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.
“Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya,” kata Trump kepada wartawan pada Selasa (31/3).
Ia menambahkan bahwa penarikan tersebut diperkirakan terjadi dalam waktu singkat. “Kami akan segera pergi,” katanya, seraya menambahkan hal itu akan terjadi dalam “mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu.”
Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah menelan korban jiwa besar. Sejak 28 Februari, serangan udara yang dilakukan AS dan Israel ke wilayah Iran dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, menurut pemerintah Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah lokasi yang menampung aset militer AS di kawasan Teluk. Konflik ini juga menyebabkan jatuhnya korban di pihak Amerika Serikat, dengan sedikitnya 13 prajurit dilaporkan tewas.
Trump juga menyinggung soal keamanan jalur energi global, khususnya Selat Hormuz, yang menjadi rute vital distribusi minyak dunia. Ia menilai kawasan tersebut tetap aman, meski menegaskan AS tidak akan lagi terlibat dalam pengamanan jalur tersebut.
“Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan melalui Selat (Hormuz). Mereka akan mampu membela diri sendiri. Saya pikir itu akan sangat aman, tetapi kami tak ada hubungannya dengan itu,” katanya.
Ketegangan di kawasan ini turut berdampak pada lonjakan harga energi global serta terganggunya aktivitas pelayaran internasional. Dengan rencana penarikan pasukan AS, perhatian kini tertuju pada bagaimana dinamika konflik akan berkembang, serta apakah langkah tersebut benar-benar membuka jalan menuju deeskalasi atau justru memicu ketidakstabilan baru.
