Pintasan.co – Pemerintah Kota Bandung tengah menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah menjelang rencana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pada Desember 2026. Berbagai upaya kini dikebut untuk memastikan sistem pengolahan sampah tetap berjalan optimal.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa saat ini sistem pengangkutan sampah masih terbatas. Aktivitas pengangkutan hanya dapat dilakukan pada hari kerja awal pekan, sementara pada akhir pekan sampah harus ditampung sementara di TPS.

“Ini kondisi nyata di lapangan. Jumat sampai Minggu kita tampung dulu, Senin baru diangkut,” katanya.

Kondisi tersebut menyebabkan sekitar 500 ton sampah per hari belum tertangani secara optimal. Untuk mengatasi hal ini, Pemkot Bandung menargetkan peningkatan kapasitas pengolahan hingga 600 ton per hari dalam dua bulan ke depan.

Sejumlah strategi pun disiapkan, salah satunya melalui penguatan pengelolaan sampah berbasis kewilayahan di tingkat RW. Program ini mengedepankan konsep ekonomi sirkular, seperti pengolahan sampah organik, pengembangan urban farming, hingga pengelolaan dapur sehat di lingkungan masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga berencana membangun 36 fasilitas pengolahan sampah di tingkat kecamatan dengan memanfaatkan berbagai teknologi, mulai dari metode pengolahan organik hingga teknologi termal.

Namun, tantangan terbesar justru terletak pada rendahnya partisipasi masyarakat. Saat ini, kurang dari 10 persen RW yang mampu mengelola sampah secara mandiri.

“Target kita, sampah organik harus selesai di tingkat RW. Ini berat, tapi harus kita kejar,” ujar Farhan.

Dengan waktu yang semakin terbatas, Pemkot Bandung dituntut untuk mempercepat implementasi berbagai program tersebut agar krisis sampah tidak semakin membesar saat TPA resmi ditutup nanti.

Baca Juga :  Pemerintah Mulai Bangun Fasilitas Pengolahan Sampah Jadi Listrik di 7 Daerah