Pintasan.co – Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan penggunaan jasa Event Organizer (EO) dalam pelaksanaan berbagai kegiatan merupakan langkah strategis untuk memastikan profesionalitas program, khususnya dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penjelasan ini disampaikan menyusul sorotan publik terhadap penggunaan anggaran sekitar Rp113 miliar untuk jasa EO. Dadan menyebut, sebagai lembaga yang baru dibentuk, BGN masih berada dalam tahap awal pembangunan sistem dan tata kelola operasional.
“Sebagai lembaga baru yang dibentuk untuk menjalankan program strategis nasional tentu berada dalam fase awal pembangunan sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional. Dalam tahap ini BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kebutuhan kegiatan berskala besar secara mandiri,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan berskala nasional seperti sosialisasi dan kampanye publik membutuhkan keahlian khusus yang saat ini belum sepenuhnya dimiliki oleh internal BGN. Oleh karena itu, kehadiran EO dinilai penting untuk menjamin kegiatan berjalan optimal.
“Penggunaan jasa EO dalam konteks ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara profesional, terstandar, dan tepat waktu. EO memiliki keahlian khusus dalam manajemen acara, mulai dari perencanaan, koordinasi vendor, pengelolaan teknis lapangan, hingga mitigasi risiko operasional. Hal-hal ini membutuhkan pengalaman dan tim yang solid yang secara realistis belum sepenuhnya dimiliki oleh BGN di fase awal pembentukannya,” ucap Dadan.
Selain aspek teknis, penggunaan EO juga disebut membantu dalam tata kelola administrasi dan keuangan. Dengan sistem yang terpusat, proses pengadaan hingga pelaporan dinilai menjadi lebih tertib dan transparan.
“Hal ini justru memudahkan proses audit, pengawasan, dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara, karena seluruh komponen kegiatan terdokumentasi secara sistematis,” lanjutnya.
Dadan menegaskan bahwa kegiatan yang melibatkan EO tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi juga mencakup strategi komunikasi publik terkait isu gizi nasional, termasuk pelatihan atau bimbingan teknis bagi tenaga penjamah makanan.
“Oleh karena itu, kualitas penyelenggaraan menjadi krusial. EO berperan dalam memastikan pesan yang ingin disampaikan pemerintah dapat dikemas secara efektif, menarik, dan berdampak luas, sehingga tujuan program dapat tercapai secara optimal serta pengelolaan SDM yang terlatih di bidangnya,” kata Dadan.
Dari sisi efisiensi, ia menilai penggunaan EO lebih rasional dibandingkan membangun tim internal dalam waktu singkat, yang membutuhkan proses panjang mulai dari rekrutmen hingga pelatihan.
“Sementara itu kebutuhan pelaksanaan program harus segera berjalan. EO hadir sebagai solusi yang menjembatani agar program tetap dapat dieksekusi tanpa mengorbankan kualitas dan waktu,” ujarnya.
Meski demikian, Dadan memastikan seluruh penggunaan anggaran tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas serta mengikuti aturan yang berlaku.
“Setiap pengeluaran, termasuk penggunaan jasa EO, dilakukan melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta terbuka untuk diawasi oleh lembaga pengawas internal maupun eksternal,” tegasnya.
