Pintasan.co, LumajangKepala Desa (Kades) Pakel, Kecamatan Gucialit, Lumajang bernama Sampurno (45) menjadi korban pengeroyokan disertai pembacokan belasan orang. Meski mengalami luka bacok, namun nyawanya masih terselamatkan.

Akibat luka bacok yang dialami Sampurno, ia sempat dilarikan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Haryoto. Beruntungnya, kondisi Sampurno tak terlalu parah, ia kemudian diperbolehkan pulang meski perban yang melingkar di tubuhnya.

Sampurno mengatakan tak mempermasalahkan dengan pengeroyokan yang menimpanya. Ia mengatakan kemungkinan hal ini terjadi karena ada salah paham. Ia kemudian meminta maaf kepada seorang bernama Dani. Meski demikian, ia tak menjelaskan lebih detail siapa Dani itu.

“Mungkin Mas Dani khilaf, kasihan Mas Dani semoga jadi pelajaran bagi saya mungkin Mas Dani marah dengan saya mungkin salah paham saja,” kata Sampurno, Kamis (16/4/2026).

Korban, Sampurno diserang sekelompok orang saat berada di rumahnya hingga mengalami luka bacok. Insiden yang diduga dipicu kesalahpahaman itu saat ini masih dalam penyelidikan polisi. Berikut sederet fakta yang terungkap dari kejadian tersebut:

5 Fakta Kades Lumajang Jadi Korban Pengeroyokan

  1. Kades diserang di rumah sendiri saat siang hari
    Peristiwa terjadi pada Rabu (15/4/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di kediaman Kepala Desa Pakel. Saat itu, Sampurno tengah menerima tamu sebelum tiba-tiba didatangi rombongan pelaku menggunakan dua mobil.

“Kejadiannya sekitar pukul 14.00 WIB di kediaman pak kades, awalnya pak kades sedang menerima tamu tiba-tiba ada 2 mobil datang sempat terjadi cekcok dan kemudian terjadilah penganiayaan, untuk motif masih kita dalami,” terang Pras.

  1. Diserang lebih dari 10 orang dan dibacok celurit
    Sampurno menjadi korban pengeroyokan oleh sekitar 10 orang lebih. Ia tidak hanya dipukuli, tetapi juga dibacok menggunakan senjata tajam jenis celurit hingga mengalami luka di kepala, lengan, dan bahu.
Baca Juga :  Prabowo dan Turki Sepakat: Kemerdekaan Palestina adalah Kunci Perdamaian

“Untuk motif masih kita dalami. Pelaku sekitar 10 orang menggunakan dua mobil,” ujar Pras.

  1. Korban sempat mengira pelaku adalah tamu
    Awalnya, Sampurno tidak menaruh curiga saat rombongan datang ke rumahnya. Ia mengira mereka adalah tamu, namun situasi berubah ketika terjadi cekcok yang berujung aksi kekerasan.
  2. Diduga dipicu salah paham dari kejadian sebelumnya
    Pengeroyokan ini diduga dipicu kesalahpahaman. Beberapa hari sebelum kejadian, korban disebut sempat terlibat perselisihan dengan terduga pelaku dalam sebuah acara pengajian.
  3. Korban pilih berdamai dan anggap pelaku khilaf
    Meski menjadi korban, Sampurno tidak mempermasalahkan kejadian tersebut dan memilih menyikapinya secara damai. Ia bahkan menyebut pelaku kemungkinan hanya khilaf.

“Mungkin Mas Dani khilaf, kasihan Mas Dani semoga jadi pelajaran bagi saya mungkin Mas Dani marah dengan saya mungkin salah paham saja,” ujar Sampurno.