Pintasan.co, JakartaHarga minyak mentah bergerak melemah tipis pada perdagangan pagi ini setelah sebelumnya melonjak lebih dari 2 persen. Kekhawatiran terkait pasokan global kembali membayangi pergerakan harga, meskipun terdapat gangguan produksi di sejumlah wilayah utama penghasil minyak di Amerika Serikat.

Pada Senin (26/1/2026) pukul 09.45 WIB, minyak mentah Brent untuk kontrak Maret 2026 turun 7 sen atau sekitar 0,1 persen menjadi US$65,81 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Maret 2026 ikut terkoreksi 6 sen atau 0,1 persen ke level US$61,01 per barel.

Meski melemah pagi ini, kedua patokan harga tersebut masih mencatat kenaikan mingguan sebesar 2,7 persen dan ditutup pada posisi tertinggi sejak 14 Januari pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Sentimen pasar turut dipengaruhi rencana kedatangan kelompok kapal induk militer Amerika Serikat beserta aset pendukung lainnya ke kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.

Analis Pasar Senior Phillip Nova Pte Ltd, Priyanka Sachdeva, menilai pergerakan harga minyak pekan ini dipicu oleh indikasi gangguan produksi di AS, ditambah risiko geopolitik yang terus menekan prospek kelebihan pasokan minyak pada 2026.

JPMorgan dalam catatannya menyebutkan sekitar 250.000 barel per hari produksi minyak mentah AS hilang akibat cuaca ekstrem. Penurunan produksi terjadi di sejumlah area, termasuk ladang minyak Bakken di Oklahoma dan beberapa wilayah Texas.

Badai musim dingin Fern dilaporkan menghantam pesisir AS, memaksa penghentian sementara aktivitas di kawasan penghasil minyak dan gas utama serta menambah tekanan pada jaringan listrik. Kondisi ini dinilai memberikan dorongan terbatas bagi pasar minyak karena gangguan pasokan fisik.

Selain faktor cuaca, pelaku pasar juga mencermati ketegangan geopolitik yang masih memanas, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait pengerahan armada laut menuju Iran kembali memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global, sehingga meningkatkan premi risiko pada harga minyak mentah.

Baca Juga :  Bawaslu Bantul dan UMY Bekerja Sama dalam Pendidikan Kepemiluan

Pernyataan keras juga datang dari pejabat senior Iran yang menegaskan bahwa negaranya akan memandang setiap serangan sebagai bentuk perang terbuka.

Di sisi lain, Konsorsium Pipa Kaspia Kazakhstan menyatakan terminal pemuatan di pantai Laut Hitam telah kembali beroperasi penuh sejak Minggu, setelah proses perawatan selesai dilakukan pada salah satu dari tiga titik tambat.

Sachdeva menambahkan, pelaku pasar saat ini lebih fokus pada potensi keberlanjutan surplus pasokan ketimbang isu-isu jangka pendek. Menurutnya, tanpa adanya pengumuman pemangkasan produksi yang signifikan dari OPEC+ atau produsen utama lainnya, fundamental pasar minyak pada 2026 masih menunjukkan tekanan struktural yang lemah.