Pintasan.co, Yogyakarta – Taman Pintar Yogyakarta mencatat kunjungan wisatawan yang tetap solid sepanjang tahun 2025. Hingga akhir Desember, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai sekitar 720 ribu orang, meski dihadapkan pada berbagai kebijakan pembatasan kegiatan wisata dari sejumlah daerah.
Kepala UPT Pengelolaan Taman Budaya Kota Yogyakarta, Karmila, menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi kunjungan dari Januari hingga Desember 2025 dan masih bersifat sementara.
“Kalau dihitung sementara, total pengunjung sekitar 700 ribu, bahkan kemungkinan mencapai kurang lebih 720 ribu orang, karena masih ada data yang belum terakumulasi sepenuhnya,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Jumat (2/1/2025).
Ia menjelaskan, puncak kunjungan tertinggi terjadi pada Desember 2025 dengan jumlah hampir 113 ribu pengunjung. Secara tahunan, Taman Pintar memiliki empat periode padat kunjungan atau peak season.
“Biasanya akhir tahun saat libur Natal dan Tahun Baru, kemudian awal tahun di bulan Januari masih tinggi. Selain itu libur Lebaran dan libur kenaikan kelas juga menjadi momen kunjungan tertinggi,” jelasnya.
Pada periode Desember, rata-rata kunjungan harian berkisar antara 4.000 hingga 5.000 orang. Bahkan, tercatat rekor tertinggi kunjungan harian mencapai 6.000 pengunjung dalam satu hari.
“Itu menjadi salah satu angka tertinggi kunjungan harian kami sepanjang tahun,” tambah Karmila.
Capaian kunjungan tersebut berdampak positif terhadap pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan Taman Pintar berhasil melampaui target yang telah ditetapkan.
“Alhamdulillah, pendapatan kami tercapai sekitar 100,85 persen dari target, dengan total kurang lebih Rp14,45 miliar. Ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp14,3 miliar,” ungkapnya.
Menurut Karmila, kontribusi terbesar pendapatan masih berasal dari tiket masuk dan wahana.
“Sekitar 70 persen pendapatan berasal dari penjualan tiket dan wahana, sementara sisanya dari sektor lain seperti pemanfaatan area,” katanya.
Memasuki tahun 2026, pengelola Taman Pintar telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan, dengan fokus pada peremajaan fasilitas. Setelah penambahan dan penyegaran wahana di Gedung Oval dan zona edukasi lainnya dilakukan pada 2025, tahun berikutnya diarahkan pada pembaruan sarana pendukung.
“Kami akan terus melakukan refresh wahana secara bertahap. Salah satu perencanaan besar adalah perbaikan playground di sisi timur, dekat area air mancur menari, terutama pada bagian lantainya,” jelas Karmila.
Namun, ia menegaskan bahwa realisasi rencana tersebut masih menunggu kesiapan anggaran.
Terkait fasilitas parkir, Karmila menyebut pengelolaan parkir tidak berada di bawah kewenangan Taman Pintar.
“Parkir dikelola oleh dinas terkait. Kami masih mengandalkan parkir di kawasan sekitar, termasuk untuk kendaraan rombongan. Ke depan tentu perlu antisipasi jika ada perubahan kebijakan parkir di kawasan kota,” ujarnya.
Selain persoalan parkir, tantangan lain yang dihadapi sepanjang 2025 adalah kebijakan pembatasan kegiatan karya wisata dari sejumlah daerah. Kebijakan tersebut berdampak pada penurunan kunjungan dari beberapa wilayah.
“Pengunjung dari Jawa Barat turun sekitar 15 persen, karena ada arahan agar kegiatan wisata dibatasi di wilayah masing-masing. Beberapa daerah di Jawa Timur juga menerapkan kebijakan serupa,” katanya.
Meski demikian, tren positif pariwisata Kota Yogyakarta pada akhir tahun 2025 turut menopang capaian kunjungan Taman Pintar.
“Alhamdulillah, Jogja tetap menjadi salah satu tujuan utama wisata akhir tahun. Ini cukup membantu kami di tengah berbagai sentimen eksternal,” tutur Karmila.
Ia berharap ke depan terdapat sinkronisasi kebijakan pariwisata antar daerah di tingkat nasional.
“Tujuannya tentu baik, tetapi perlu sinkronisasi agar tidak berdampak besar pada pariwisata nasional. Di sisi lain, kami sebagai pengelola destinasi juga terus berupaya menjaga kualitas layanan agar kepercayaan pengunjung tetap terjaga,” pungkasnya.
