Pintasan.co, Kotagede – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) menutup sementara Lapangan Karang di Kotagede mulai 1 Januari hingga 30 Juni 2026. Penutupan ini dilakukan untuk merawat rumput lapangan yang mengalami kerusakan akibat intensitas penggunaan yang tinggi, terutama untuk olahraga sepak bola.

Kepala Disdikpora Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, menjelaskan penggunaan Lapangan Karang selama ini telah melebihi kapasitas karena dipakai setiap hari. Dalam sehari, lapangan bisa digunakan beberapa kelompok pada pagi, sore, dan malam hari, sehingga menimbulkan kerusakan di sejumlah area.

“Rusaknya yang di tengah itu kan parah. Itu over kapasitasnya lapangan karena dipakai tiap hari,” kata Budi saat dikonfirmasi, Selasa (6/1/2026).

Budi menegaskan, karena kondisi rumput rusak, diperlukan pemeliharaan dan perlakuan khusus. Penutupan sementara selama enam bulan berdasarkan rekomendasi konsultan bertujuan mengistirahatkan tanah agar rumput dapat tumbuh kembali. Perawatan lapangan menggunakan anggaran pemeliharaan rutin Lapangan Karang.

Dia menambahkan, selama penutupan, masyarakat masih dapat memanfaatkan bagian luar lapangan, seperti jalur jogging di sisi luar pagar. Untuk olahraga, terutama sepak bola, warga dapat menggunakan lapangan lain di Kota Yogyakarta.

“Masyarakat itu sebetulnya haus akan tempat untuk melakukan aktivitas olahraga. Kalau di kota kan sangat terbatas. Ada beberapa lapangan bisa digunakan seperti Lapangan Mancasan, Sidokabul, Karangwaru dan Minggiran,” paparnya.

Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Dindikpora Kota Yogyakarta, Deni Sudaryanto, menjelaskan berdasarkan evaluasi per Desember 2025, tingkat kerusakan rumput mencapai kurang lebih 23,58 persen. Kerusakan paling parah terdapat di area tengah lapangan dan depan gawang, ditandai matinya rumput dan penurunan media tanam yang membuat permukaan lapangan tidak rata, berisiko menimbulkan cedera bagi pemain.

“Estimasi waktu perawatan pemulihan selama enam bulan didasarkan pada kondisi kerusakan lapangan yang semakin meluas. Khususnya di area tengah lapangan dan depan gawang, sehingga diperlukan perbaikan yang lebih komprehensif seperti elevasi media tanam, penanaman kembali rumput, serta rangkaian perawatan intensif agar perakaran rumput dapat tumbuh kuat dan merata. Dengan waktu enam bulan diharapkan kondisi Lapangan Karang dapat maksimal kembali,” jelas Deni.

Deni menyebut, anggaran perawatan rumput telah direncanakan secara bertahap sebesar sekitar Rp 400 juta. Anggaran ini mencakup perbaikan media tanam, penyulaman rumput, pemupukan, penyemprotan hama dan jamur, serta pemeliharaan intensif lainnya. Jenis rumput yang digunakan adalah Zoysia Matrella, yang disesuaikan dengan karakter lapangan, daya adaptasi terhadap intensitas tinggi, dan membentuk perakaran kuat.

Baca Juga :  Kebijakan Baru: Guru ASN Bisa Bertugas di Sekolah Swasta Tahun Depan

Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah BPKAD Kota Yogyakarta, Tatik Wahyuningsih, menyampaikan Lapangan Karang merupakan lapangan yang paling banyak disewa masyarakat dibandingkan lapangan lain yang dikelola Pemkot Yogyakarta. BPKAD mencatat pada tahun 2025 terdapat 138 penyewa dengan total realisasi penerimaan retribusi sekitar Rp 213,1 juta.