Pintasan.co, Luwu Timur – Di balik kebun-kebun kakao di Luwu Timur, tersimpan sebuah dedikasi panjang selama lima tahun untuk memastikan masa depan yang lebih cerah bagi anak dan perempuan di sana. Hari ini, bertempat di Aula Sasana Praja Kantor Bupati Luwu Timur, Save the Children Indonesia bersama Pemerintah Daerah Luwu Timur resmi menutup rangkaian Program Perlindungan Anak di Rantai Pasok Kakao dan Program GrowHer Kakao, Selasa (24/2/2026).
Perjalanan ini bermula pada tahun 2021 melalui kolaborasi strategis antara Save the Children Indonesia dan PT Mars Wrigley. Berfokus di dua wilayah, Luwu Timur dan Luwu Utara, program ini hadir dengan misi meningkatkan sistem perlindungan anak yang berkelanjutan tepat di tengah komunitas petani kakao. Di Luwu Timur, langkah nyata ini diperkuat melalui sinergi dengan Sulawesi Cipta Forum sebagai mitra implementasi di lapangan.
Tak berhenti pada perlindungan anak, cakupan program ini diperluas pada Maret 2023 dengan dukungan GIZ melalui Program GrowHer Cocoa. Inisiatif ini lantas bertransformasi menjadi gerakan yang lebih inklusif untuk meningkatkan hak-hak perempuan dengan memaksimalkan representasi mereka dalam rantai pasok kakao, memberikan akses ke sumber daya ekonomi, hingga melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan penting.
Acara ini dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Luwu Timur dan dihadiri oleh jajaran pemimpin daerah, mulai dari Ketua TP PKK, Asisten Pemerintahan dan Kesra, Kepala OPD lintas sektor, camat, kepala desa, forum PATBM, hingga para “champion” program yang menjadi motor penggerak di desa-desa.
“Kolaborasi lima tahun ini membuktikan bahwa masa depan Luwu Timur bergantung pada seberapa kuat kita melindungi anak-anak dan memberdayakan perempuan. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk menjaga api perubahan ini tetap menyala. Keberhasilan puluhan PATBM dan kelompok usaha perempuan yang telah terbentuk bukan sekadar akhir dari sebuah program, melainkan standar baru dalam membangun kemandirian desa,” ujar Dr Ramadhan Pirade, Sekda Luwu Timur dalam sambutannya.
Pada sisi perlindungan anak, Program Perlindungan Anak di Rantai Pasok Kakao telah berhasil melahirkan 51 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang tersebar di tujuh kecamatan. PATBM bukan sekadar nama, melainkan garda terdepan di tingkat desa yang aktif mencegah dan menangani kekerasan serta praktik berbahaya terhadap anak. Dari 51 PATBM yang terbentuk, 9 di antaranya telah bertransformasi menjadi Lembaga Kemasyarakatan Desa yang memiliki payung hukum tetap melalui Peraturan Desa.
“Kehadiran PATBM di Luwu Timur tak hanya menjadi napas baru dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan pada anak, namun menjadi bukti nyata komitmen kita dalam memenuhi hak-hak dasar anak. PATBM berhasil membantu penerbitan lebih dari 3.500 Kartu Identitas Anak (KIA). Ini adalah bukti nyata bahwa kita sedang memastikan tak ada satu pun anak yang tertinggal di rantai pasok ini,” ucap Ihwana Mustafa, Senior Manager Agriculture Portofolio Lead Save the Children Indonesia.
Sementara itu, di sisi pemberdayaan perempuan, Program GrowHer telah menanamkan kemandirian finansial yang kuat melalui pembentukan 93 Kelompok Simpan Pinjam Desa atau Village Saving and Loan Association (VSLA). Kelompok ini tersebar di 28 desa dengan akumulasi dana simpanan mencapai lebih dari 6 miliar. Kehadiran VSLA ini membantu meningkatkan akses ekonomi dan permodalan yang sebelumnya sulit dijangkau oleh kelompok perempuan.
Kelompok perempuan juga didorong mengembangkan bisnis berdasarkan potensi yang ada di desa masing-masing. Dorongan ini akhirnya menghasilkan berbagai unit usaha seperti pembibitan kakao, pengolahan kompos, budi daya sayur sehat, pengolahan minyak kelapa murni, pengolahan abon ikan, dan pengolahan hasil pertanian menjadi aneka olahan keripik.
“Di Luwu Timur kami menyaksikan kebangkitan ekonomi keluarga yang luar biasa. Sebanyak 446 warga, yang hampir seluruhnya adalah perempuan, kini bersatu dalam 31 kelompok usaha produktif. Mereka bukan hanya sekadar berkumpul, tapi telah berhasil membukukan total bagi hasil lebih dari 20 juta rupiah. Hebatnya lagi, kelompok-kelompok ini telah naik kelas secara formal, semuanya minimal sudah mengantongi NIB, bahkan sebagian besar telah melengkapi legalitas mereka dengan sertifikasi PIRT, PSAT, hingga sertifikat Halal,” imbuh Ihwana lebih lanjut.
Beberapa peserta program juga memberikan testimoni dalam acara ini. Anwar sebagai Kepala Desa Tarengge, Novika Firdaus mewakili Forum PATBM Luwu Timur, dan Sutriani mewakili para champion program dalam testimoninya menyampaikan manfaat yang dirasakan masyarakat dengan keberadaan Program Perlindungan Anak di Rantai Pasok Kakao maupun Program GrowHer Kakao.
“Melihat dampak PATBM yang begitu krusial bagi warga, pemerintah desa berkomitmen penuh untuk mengalokasikan anggaran yang jumlahnya terus bertumbuh setiap tahun. Selain itu, tahun ini pemerintah desa juga mengalokasikan anggaran untuk GALS (Gender Action Learning System). Kebetulan saya pernah menjadi peserta GALS, dan setelah menjalani pelatihan serta pendampingan intensif selama enam bulan, saya dan istri mengalami transformasi mendalam dalam cara kami berinteraksi dan berbagi peran. Saya ingin agar keharmonisan dan kesetaraan ini bisa dirasakan oleh seluruh keluarga di desa kami,” jelas Anwar, Kepala Desa Tarengge dalam testimoninya.
Penutupan Program Perlindungan Anak di Rantai Pasok Kakao dan Program GrowHer Kakao ini bukanlah akhir, melainkan sebuah tonggak estafet bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat Luwu Timur untuk terus merawat benih-benih perlindungan dan kesetaraan yang telah tumbuh subur selama lima tahun terakhir. (humas/kominfo)
