Pintasan.co – Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya membangun kota yang tangguh bencana melalui penguatan kelembagaan serta penerapan sistem mitigasi yang terintegrasi.
Upaya ini menjadi salah satu capaian penting dalam program satu tahun Bandung Utama, dengan fokus utama pada perlindungan keselamatan warga dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi beragam potensi bencana.
Peran Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bandung dinilai krusial sebagai garda terdepan dalam menekan risiko bencana, mengoordinasikan respons cepat, serta memastikan penanganan berjalan menyeluruh dari fase pra-bencana, tanggap darurat, hingga pemulihan pasca-bencana. Selain melindungi masyarakat secara langsung, lembaga ini juga mengembangkan mitigasi struktural dan kultural untuk menumbuhkan budaya sadar bencana di tengah warga.
Penguatan sistem kebencanaan Kota Bandung ditandai dengan pengukuhan Kepala Pelaksana BPBD, Didi Ruswandi, oleh Wali Kota Muhammad Farhan pada Juli 2025. Kehadiran BPBD memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman, termasuk potensi gempa akibat aktivitas Sesar Lembang di kawasan Bandung Raya.
Menurut Farhan, pembentukan BPBD tidak sebatas pembangunan sarana fisik, tetapi juga menyiapkan suprastruktur berupa sumber daya manusia dan kelembagaan yang mampu merespons keadaan darurat secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
“Ketangguhan kota dibangun dari kesiapan orang-orangnya dan sistem yang bekerja,” ujarnya dalam salah satu kesempatan.
Untuk mengurangi risiko banjir perkotaan, BPBD bersama Pemkot Bandung mengubah pendekatan mitigasi dengan memprioritaskan peningkatan daya resap tanah. Strategi ini diwujudkan melalui pembangunan sumur resapan, kolam retensi, serta program penghijauan di titik-titik rawan genangan. Saat ini tercatat 14 kolam retensi tersebar di berbagai wilayah kota.
Hingga pertengahan 2025, Pemkot Bandung menargetkan pembangunan 100 unit sumur imbuhan dalam (deep infiltration well) untuk pengendalian banjir, dengan 78 unit telah terpasang. Selain itu, sekitar 4.500 sumur resapan dangkal juga telah dibangun di sejumlah kawasan permukiman.
Penghijauan kota terus diperluas melalui pengembangan taman tematik, hutan kota, dan jalur hijau, terutama di wilayah Bandung Utara serta pusat kota. Langkah ini diarahkan untuk menekan limpasan air hujan sekaligus memperbaiki keseimbangan ekologis perkotaan.
Penguatan ketangguhan kota tidak berhenti pada infrastruktur. BPBD secara masif menjalankan edukasi dan simulasi kebencanaan di sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SMA, komunitas warga, kelompok lansia, serta melalui pendekatan berbasis kewilayahan. Upaya ini diharapkan menumbuhkan kesiapsiagaan kolektif agar masyarakat mampu merespons bencana secara lebih mandiri dan terkoordinasi.
