Pintasan.co, Jakarta – Rencana pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mulai menemukan titik terang. Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, memastikan bahwa silaturahmi politik ini tinggal menunggu waktu. “Secepatnya,” kata Puan singkat, usai menghadiri acara open house Ketua MPR Ahmad Muzani, Rabu (2/4).

Nada serupa disampaikan Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad. Menurut dia, komunikasi antarpihak sudah terjalin dan hanya tinggal menyepakati waktu. “Kami sepakat ini akan terjadi secepatnya. Kapan tepatnya, mari kita tunggu,” ucap Dasco usai berbincang dengan Puan.

Isyarat positif dari dua partai besar ini ditanggapi antusias oleh berbagai kalangan. Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menyebut pertemuan itu sebagai momentum strategis untuk meredam ketegangan politik pasca Pemilu 2024. “Politik seharusnya jadi ruang untuk saling mendengar, kita dukung untuk itu,” ujar Romadhon.

Menurutnya, publik berharap lebih dari sekadar pertemuan formal. “Ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal bagaimana elite politik bisa melangkah bersama,” katanya.

Jejak awal menuju pertemuan ini terlihat dari kunjungan Didit Prabowo ke kediaman Megawati pada 31 Maret lalu. Ansy Lema, juru bicara PDIP, menyebut pertemuan itu sebagai “pemanasan suasana”. “Kami tinggal mencari waktu yang pas,” pungkasnya.

Romadhon menyebut pertemuan Prabowo-Megawati berpotensi menjadi simbol rekonsiliasi nasional. Dalam situasi politik yang cenderung memanas, dialog dua tokoh sentral ini diharapkan mampu mendinginkan suhu politik dan merawat stabilitas demokrasi.

Romadhon menegaskan, masyarakat menanti sikap kenegarawanan dari para pemimpin. “Rakyat butuh keteladanan. Politik yang hangat dan bijaksana adalah harapan kita bersama,” kata dia.

Ia menambahkan, momentum ini sebaiknya dimaknai sebagai peluang memperkuat kekuatan persatuan. “Gagas Nusantara mendorong semua elemen partai, tokoh publik, hingga warga biasa untuk mendukung suasana politik yang kondusif dan menggembirakan”.

Baca Juga :  Membangun Demokrasi yang Sehat: Mengurangi Pengaruh Oligarki dalam Kebijakan Pemerintah

“Jika Prabowo dan Megawati bisa duduk bersama dengan hati terbuka, itu bukan sekadar silaturahmi politik—itu simbol bahwa Indonesia lebih besar dari perbedaan,” imbuh Romadhon.