Pintasan.co, Jakarta – Presiden Iran, Mahmoud Pezeshkian, menyatakan kesiapan negaranya untuk kembali melakukan perundingan dengan pemerintah Amerika Serikat terkait program nuklir, selama hal tersebut dilakukan demi kepentingan nasional.
Namun, ia menegaskan bahwa dialog hanya dapat berlangsung apabila terbebas dari ancaman dan tekanan.
Pezeshkian mengungkapkan bahwa dirinya telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Iran untuk membuka ruang negosiasi dengan syarat terciptanya suasana yang kondusif, tanpa intimidasi maupun tuntutan yang dinilai tidak rasional.
Ia menekankan bahwa setiap pembicaraan harus berlandaskan kepentingan nasional Iran.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat masih memungkinkan dicapai.
Menurutnya, peluang itu terbuka apabila tim perunding AS berkomitmen untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang guna memastikan tidak adanya pengembangan senjata nuklir.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, disertai peringatan akan adanya konsekuensi serius jika perundingan tidak terwujud.
Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, memandang program nuklir Iran sebagai ancaman karena berpotensi menghasilkan senjata.
Namun, pemerintah Iran secara konsisten menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kepentingan damai. Washington juga mendorong Teheran agar mengurangi produksi rudal.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut memperkeruh hubungan kedua negara di tengah upaya membuka kembali jalur diplomasi.
