Pintasan.co, SurabayaKabupaten Situbondo mengaku siap apabila nantinya ditunjuk sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Kesiapan itu ditegaskan langsung oleh Bupati Situbondo Yusuf Rio Prayogo saat mengikuti kegiatan Napak Tilas Sejarah NU bersama Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, KH Ahmad Azaim Ibrahimy.

Mas Rio, sapaan akrab Bupati Situbondo, menuturkan bahwa Situbondo memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan lahirnya NU. Salah satunya melalui peran besar KH As’ad Syamsul Arifin, ulama asal Situbondo yang juga telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Napak tilas ini adalah kegiatan yang diinisiasi oleh KH Ahmad Azaim Ibrahimy, cucu dari Kiai As’ad Syamsul Arifin. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi mengingatkan kita pada sejarah penting berdirinya NU,” tutur Mas Rio usai berziarah ke Makam Sunan Ampel, Surabaya, Minggu (4/12/2026).

Mas Rio juga menambahkan, kalau melihat sejarahnya, KH As’ad Syamsul Arifin mendapat amanah dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan untuk menyampaikan tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari. Amanah tersebut kemudian dimaknai sebagai isyarat berdirinya jam’iyah Nahdlatul Ulama.

“Peristiwa itu menjadi bagian penting dari sejarah NU. Maka kegiatan napak tilas ini sangat relevan,” tambahnya.

Pada kesempatan itu berharap dinamika yang tengah terjadi di internal PBNU dapat segera terselesaikan dengan baik. Sehingga, Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung lancar dan membawa kemaslahatan bagi umat.

Kemudian, dengan kesiapannya Mas Rio menyebut bahwa Situbondo siap jika diberi amanah untum menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Ia menegaskan, pemerintah daerah bersama para kiai dan pesantren siap memberikan dukungan penuh.

“Kami sangat siap. Situbondo punya pengalaman menjadi tuan rumah Muktamar NU tahun 1984. Saat itu juga ada dinamika internal organisasi, dan situasinya mirip dengan sekarang. Justru Situbondo bisa menjadi tempat yang lebih tenang,” katanya.

Terkait keamanan dan kenyamanan pelaksanaan muktamar, Mas Rio memastikan seluruh aspek telah dipersiapkan. Ia bahkan menyebut adanya inisiatif dari kalangan kiai dan pesantren untuk ikut menanggung kebutuhan akomodasi peserta.

“Soal keamanan, Insyaallah kita sangat siap. Saya sudah bicara dengan beberapa kiai. Bahkan ada inisiatif agar penampungan peserta ditanggung oleh pondok pesantren. Ini bentuk kesiapan dan khidmat Situbondo untuk NU,” tegasnya.

Sebagai informasi, Napak Tilas tersebut sejarah NU ini dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura, dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dan historis menjelang rencana besar Muktamar NU.

Baca Juga :  Polisi Sidoarjo Budi Daya Lele Wujudkan Ketahanan Nasional