Pintasan.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak sepenuhnya menutup kemungkinan melakukan perundingan dengan Iran, meskipun hubungan kedua negara sedang berada dalam ketegangan tinggi setelah serangkaian serangan militer di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa, Trump mengatakan peluang dialog masih ada, namun bergantung pada berbagai syarat yang harus dipenuhi.
“Itu mungkin saja, tergantung pada syaratnya, mungkin saja, hanya mungkin… Anda tahu, sebenarnya kita tidak perlu lagi berbicara, jika benar-benar dipikirkan, tetapi itu mungkin,” kata Trump kepada Fox News ketika ditanya mengenai kemungkinan tersebut.
Trump juga menyampaikan keraguannya terhadap kepemimpinan baru Iran di bawah Mojtaba Khamenei. Ia menilai sosok tersebut sulit menjalani hubungan damai dengan pihak luar.
Selain itu, Trump mengaku kecewa atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah wafatnya ayahnya, Ali Khamenei.
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat sejak operasi militer yang dilancarkan pada 28 Februari. Dalam operasi tersebut, Amerika Serikat bersama Israel menyerang sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban di kalangan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Washington dan Tel Aviv awalnya menyebut operasi tersebut sebagai langkah “preemptif” untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, kemudian muncul pernyataan yang menunjukkan adanya keinginan untuk melihat perubahan kepemimpinan di Iran.
Di tengah konflik yang memanas itu, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama operasi militer tersebut. Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Presiden Rusia Vladimir Putin turut menanggapi peristiwa tersebut dengan menyebut pembunuhan Khamenei sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel serta menyerukan deeskalasi segera dan penghentian permusuhan di kawasan tersebut.
