Pintasan.co, Surabaya – Sebuah video viral di media massa menampilkan pedagang di Pasar Karang Menjangan (Karmen), Surabaya mengeluhkan Satpol PP saat razia dianggap keterlaluan karena turut menyita dagangan makanan.
Peristiwa itu diketahui terjadi Jumat (24/4) pagi. Dalam video yang beredar, tampak mantan anggota DPRD Surabaya, Anugrah Ariyadi, mendampingi para pedagang yang mengeluh atas tindakan represif oknum petugas di lapangan.
Namun, menurut Anugrah ada kekeliruan dalam penertiban ini. Pasalnya, dalam penertiban dagangan makanan yang disita Satpol PP ternyata bukan sayur, lontong, dan kikil, melainkan sayur lontong dan dingklik atau kursi kecil milik pedagang.
“Waktu itu mereka-mereka menyampaikan kalau kawan-kawan Satpol PP datang ke lapangan, tiba-tiba mengambil perlengkapan dagangannya. Ada yang berupa lapak, ada yang berupa sayur ontong. Jadi bukan lontong dan kikil, tapi sayur ontong dan dingklik. Ibu-ibu menyebutnya sayur ontong dan dingklik yang diambil paksa,” kata Anugrah di gedung DPRD Surabaya, Senin (27/4/2026).
Anugrah juga menambahkan, kejadian pada pagi hari sejumlah anggota Satpol PP membawa motor trail datang dan langsung menyita dagangan. Setelah itu pergi meninggalkan lokasi tanpa surat penyitaan.
Kemudian, ia yang tinggal di kawasan Karmen itu mendatangi lokasi dan agak siang bertemu dengan rombongan Satpol PP yang lainnya dan melakukan komunikasi. Ia tidak mendapat pengakuan langsung dari Satpol PP pertama yang menyita dagangan
Melihat keluhan pedagang yang barang dagangannya disita dan Satpol PP pergi tanpa memberikan surat penyitaan pun membuatnya naik pitam.
“Saya belum ketemu dengan Satpol-PP-nya, karena tidak ada di tempat. Begitu itu (menyita) kan langsung dia lepas. Maksudnya melarikan, lari ya, toh? Jadi ibu-ibu mengakunya seperti itu. Semua pedagang mengakunya seperti itu. Tidak ada surat itu,” jelasnya.
“Sama sekali tidak meninggalkan surat penyitaan, sehingga terkesan kan seperti maling ya toh, mengambil paksa begitu. Ini kan suatu tindakan yang tidak patut,” tambahnya.
Ia mengaku sudah bertemu dengan Kepala Satpol PP Surabaya Achmad Zaini. Ia meminta untuk lebih humanis ketika melakukan penertiban, dan para pedagang juga lebih bersih.
“Satu, Satpol PP membina ke dalam. Tadi sudah ketemu dengan Pak Zaini (Kasatpol PP). Pada intinya sama-sama introspeksi, Satpol PP membina ke dalam terhadap personel agar tidak represif. Humasnisnya betul-betul humanis, jangan humanis yang hanya pimpinannya saja yang bilang tapi jajaran di bawahnya humanis. Kami pun kawan-kawan pedagang agar tidak kumuh dan sebagainya,” urainya.
Selanjutnya, ia tidak ingin menuntut hal lainnya atau memperpanjang masalah. Sebab, kejadiannya sudah berlalu.
“Untuk peristiwa yang sudah selesai, kita sama-sama memaafkan. Yang sudah ya sudah, ke depannya jangan diulangi lagi,” pungkasnya.
