Pintasan.co – Puasa Tarwiyah merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, khususnya pada bulan Dzulhijjah. Puasa ini dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Puasa Arafah. Bagi kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, puasa Tarwiyah menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pengertian Puasa Tarwiyah
Kata Tarwiyah berasal dari bahasa Arab “رَوِيَ” (rawiya) yang berarti membawa bekal air. Pada masa dahulu, para jamaah haji mempersiapkan persediaan air pada tanggal 8 Dzulhijjah sebelum berangkat menuju Mina dan Arafah. Karena itu, hari tersebut dikenal sebagai Hari Tarwiyah.
Puasa Tarwiyah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Amalan ini menjadi bagian dari keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang sangat dimuliakan Allah SWT.
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah
Allah SWT berfirman:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)
Sebagian besar ulama menafsirkan “malam yang sepuluh” sebagai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hari-hari tersebut termasuk waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).”
(HR. Bukhari)
Karena itu, puasa Tarwiyah menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk menghidupkan kemuliaan hari-hari tersebut.
Keutamaan Puasa Tarwiyah
- Mendapatkan Pahala Amal Saleh yang Besar
Puasa termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah SWT. Ketika dilakukan pada hari-hari mulia Dzulhijjah, nilainya menjadi semakin agung. Puasa Tarwiyah menjadi sarana memperbanyak pahala dan meningkatkan ketakwaan. - Menjadi Persiapan Spiritual Menyambut Hari Arafah
Puasa Tarwiyah membantu seorang muslim mempersiapkan diri secara ruhani untuk menyambut Hari Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dengan hati yang lebih bersih dan ibadah yang lebih khusyuk, seorang hamba dapat lebih dekat kepada Allah SWT. - Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah.
Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi SAW berkata:
“Rasulullah SAW berpuasa pada sembilan hari bulan Dzulhijjah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Hadis ini menjadi dasar anjuran melaksanakan puasa Tarwiyah dan puasa-puasa sunnah lainnya di awal Dzulhijjah.
- Menambah Kedekatan kepada Allah SWT
Puasa mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri. Dengan menjalankan puasa Tarwiyah, seorang muslim melatih hati untuk lebih tunduk kepada Allah serta memperbanyak doa dan dzikir.
Puasa Tarwiyah adalah amalan sunnah yang memiliki banyak keutamaan, terutama karena dilakukan pada hari-hari terbaik di bulan Dzulhijjah. Melalui puasa ini, seorang muslim dapat memperbanyak pahala, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta mempersiapkan hati menyambut Hari Arafah dan Iduladha.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk menghidupkan sunnah-sunnah mulia di bulan Dzulhijjah dan menerima seluruh amal ibadah kita. Aamiin.
