Pintasan.co, Jakarta – Beberapa hari kebelakangan ini dunia digiltal diramaikan dengan rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan safari politik ke sejumlah daerah mendapat respons positif dari publik di ruang digital.
Hasil pemantauan yang dilakukan Sintesa Strategi Indonesia (SSI) bersama Datalinker menunjukkan sentimen positif mendominasi percakapan masyarakat terkait agenda tersebut.
Direktur SSI, Ikrama Masloman, mengatakan hasil analisis digital mencatat sebanyak 43,5 persen percakapan bernada positif, sementara sentimen negatif berada di angka 18 persen dan sisanya 38,6 persen bersifat netral.
“Berdasarkan distribusi percakapan, media sosial menjadi ruang dominan dalam pembahasan isu ini dengan porsi sebesar 90,6 persen, sedangkan media online menyumbang sekitar 9,4 persen dari total pembicaraan,” kata Ikrama dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, terdapat perbedaan kecenderungan sentimen antara media sosial dan media online. Di media sosial, sentimen positif tercatat mencapai 44,1 persen, sedangkan pemberitaan media online cenderung lebih netral dengan persentase 45,4 persen.
SSI juga menemukan bahwa meskipun terdapat kritik terhadap rencana safari politik Jokowi, tingkat percakapan yang benar-benar menunjukkan sikap berseberangan relatif rendah.
“Meski 18,6 persen percakapan menggunakan nada kritis, tingkat sikap yang benar-benar berseberangan terhadap Jokowi hanya sekitar 18 persen,” ujarnya.
Sentimen Negatif Sempat Menguat
Dalam periode pemantauan, dinamika percakapan publik mengalami fluktuasi. SSI mencatat sentimen negatif sempat meningkat pada awal Juni 2026, dipicu oleh isu politik terkait hubungan Jokowi dengan PDI Perjuangan serta kembali mencuatnya polemik ijazah.
Namun, setelah 8 Juni 2026, sentimen positif kembali mendominasi ruang digital. Kenaikan tersebut dipengaruhi sejumlah momentum, termasuk kehadiran Jokowi saat menyaksikan pertandingan AFF U-19 dan viralnya tagar #PriaSoloItu di media sosial.
Analisis kata kunci yang dilakukan SSI menunjukkan istilah seperti “blusukan”, “keliling daerah”, dan “kepemimpinan” didominasi sentimen positif dengan persentase di atas 70 persen.
Sebaliknya, kata kunci seperti “ijazah” dan “PDIP” menjadi faktor utama yang mendorong munculnya sentimen negatif selama periode pemantauan.
Analisis Libatkan Puluhan Juta Paparan Percakapan
Riset SSI dan Datalinker menggunakan metode keyword-based crawling dengan menghimpun data dari berbagai platform digital, mulai dari X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok hingga media online.
Pemantauan dilakukan pada periode 23 Mei hingga 21 Juni 2026. Dalam rentang waktu tersebut, sistem merekam lebih dari 58 juta paparan percakapan dengan kata kunci “Jokowi” dan sekitar 23,5 juta paparan dengan kata kunci “Joko Widodo”.
Secara keseluruhan, sebanyak 158.761 percakapan di media sosial dianalisis melalui proses penyaringan relevansi, penghapusan data ganda, hingga klasifikasi sentimen secara otomatis.
SSI menegaskan bahwa penelitian ini bertujuan memotret dinamika opini publik di ruang digital dan tidak dimaksudkan sebagai survei elektoral maupun pengukuran tingkat elektabilitas tokoh politik.
