Pintasan.co, Kediri – Sebuah video viral di media sosial dengan narasi penemuan candi besar di Situs Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri beredar. Dalam video itu tampak sejumlah struktur batu, arca, hingga makara berukuran besar.

Penelusuran pintasan.co ke lokasi dan melalui literatur resmi memastikan bahwa video tersebut bukanlah penemuan baru, melainkan dokumentasi lama saat proses ekskavasi berlangsung.

Juru Pelihara Situs Adan-Adan, Ikhwan, meluruskan simpang siur informasi tersebut. Ia menegaskan bahwa visual yang beredar merupakan rekaman saat tim arkeologi bekerja beberapa tahun silam.

“Itu foto-foto lama waktu ekskavasi tahun 2022,” ujar Ikhwan saat ditemui di lokasi, Jumat (8/5/2026).

Situs Adan-Adan sebenarnya sudah menjadi perhatian arkeolog nasional sejak ditemukan pada tahun 2016. Ekskavasi dilakukan secara bertahap hampir setiap tahun. Berdasarkan hasil penelitian sementara, situs ini merupakan kompleks candi Buddha yang dibangun antara abad ke-9 hingga ke-11 Masehi.

Dugaan sebagai kompleks Buddha diperkuat dengan temuan kepala arca Buddha dan fragmen stupa di beberapa titik penggalian pada tahun 2020.

Salah satu daya tarik utama situs ini adalah keberadaan Makara (hiasan tangga candi) berukuran sangat besar. Bahkan, ukurannya disebut-sebut melampaui Makara yang ada di Candi Borobudur.

“Biasanya ukuran makara itu menunjukkan besarnya bangunan candi. Makanya muncul anggapan kalau candinya bisa jadi sangat besar. Bahkan ada yang menyebut makara di sini termasuk yang terbesar di Asia Tenggara,” jelas Ikhwan.

Meskipun belum dibuka sepenuhnya, karena masih dalam tahap ekskavasi. Ikhwan menjelaskan bahwa situs ini memiliki pola mandala. Dari 48 titik ekskavasi yang telah dilakukan, terlihat adanya bangunan inti di tengah yang dikelilingi teras-teras luar. Adapun bangunan inti diperkirakan berukuran 21 meter. Sedangkan total kawasan mencapai sekitar 800 meter per segi.

Baca Juga :  Inisiatif Pemkab Garut: Pemasangan WiFi Gratis untuk Menata Perkotaan dan Meningkatkan Kenyamanan Warga

Tim arkeolog juga menemukan bagian puncak stupa yang terkubur jauh di bawah tanah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa bangunan candi tersebut pernah roboh pada masa lampau.

Diduga kuat, kerusakan masif tersebut dipicu oleh aktivitas vulkanik Gunung Kelud atau bencana alam lainnya. Selain itu, ditemukan pula beberapa arca dalam kondisi belum selesai dikerjakan, yang mengisyaratkan bahwa pembangunan candi ini terhenti sebelum rampung total.

Sebagian artefak penting dari Situs Adan-Adan kini tidak lagi berada di lokasi. Salah satunya adalah arca penjaga atau Dwarapala. Sepasang arca ini terpisah; satu masih di situs, sementara pasangannya telah tersimpan di Museum Airlangga, Kota Kediri, sejak zaman kolonial Belanda.

Saat ini, Situs Adan-Adan masih dalam pengawasan juru pelihara dan pihak terkait guna menjaga keamanan aset sejarah tersebut dari penjarahan maupun kerusakan lebih lanjut.