Pintasan.co, Surabaya – Kisah pilu dan tidak manusiawi dialami Elina Widjajanti. Nenek berusia 80 tahun di Surabaya ini diduga menjadi korban pengusiran paksa dari rumahnya. Diduga pengusiran itu dilakukan oleh beberapa orang yang disebut merupakan oknum salah satu organisasi masyarakat (ormas).
Video pengusiran paksa tersebut sempat terekam dan viral di media sosial. Bahkan, rumahnya di Dukuh Kuwukan 27, Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya, kini telah dibongkar.
Kuasa hukum korban, Wellem Mintarja mengatakan, peristiwa ini bermula saat sang nenek didatangi oleh puluhan orang ke rumahnya pada tanggal 6 Agustus 2035.
“Kemungkinan antara 30 orang yang diduga melakukan pengusiran secara paksa, terus kemudian melakukan eksekusi tanpa adanya putusan pengadilan,” ujar Wellem, Jumat (26/12/2025).
Dalam video viral yang beredar di media sosial, Elina sempat menolak keluar dari rumahnya. Namun beberapa orang pria menarik dan mengangkat paksa tubuhnya agar mau keluar.
“Di situ nenek ditarik, diangkat, kemudian dikeluarkan dari rumah dan ada saksinya,” jelas Willem.
Dalam pengusiran paksa tersebut, Elina sampai mengalami luka hingga berdarah. Ia juga belum sempat menyelamatkan barang-barang penting yang ada di rumahnya.
Wellem menjelaskan, saat pengusiran itu, di dalam rumah tersebut juga ada seorang bayi berusia 1,5 tahun, balita lima tahun, seorang ibu dan lansia lainnya.
Kemudian, penghuni tidak lagi diperbolehkan masuk, akses rumah dipalang hingga bangunan akhirnya dibongkar rata dengan tanah.
“Beberapa hari kemudian ada orang mengangkut barang-barang menggunakan pick up tanpa izin penghuni. Lalu datang alat berat, dan sekarang rumah itu sudah rata dengan tanah,” jelasnya.
Merasa dirugikan, pihak keluarga pun menempuh jalur hukum. Laporan telah dilayangkan ke kepolisian dengan nomor LP/B/1546/X/2025/SPKT/POLDA JAWA TIMUR tertanggal 29 Oktober 2025.
“Kami di awal ini melaporkan tentang pengeroyokan terus kemudian yang disertai dengan perusakan barang secara bersama-sama di tempat umum ya,” tegas Willem.
Kemudian, kasus ini ditanggapi Wakil Wali Kota Surabaya Armuji. Ia melakukan inspeksi mendadak ke rumah Elina yang diduga dibongkar secara paksa.
Di hadapan Armuji, pihak keluarga menjelaskan bahwa pembongkaran rumah tidak disertai dengan putusan pengadilan.
“Kita sudah tanya baik-baik bukti bahwa mereka, sudah mengeklaim membeli. Mereka enggak berani cuma iya-iya saja. Bapak mau membongkar apakah ada surat dari pengadilan? Jadi sepihak,” kata pihak keluarga Elina ke Armuji.
Diketahui, Elina merupakan lansia yang tidak menikah dan telah tinggal sendirian di rumah tersebut sejak 2011. Pihak keluarga menuturkan saat puluhan orang itu datang, Elina diberi tahu bahwa rumah itu telah dibeli dan disebut tidak memiliki ahli waris.
“Saya bilang ‘loh ini (Elina) masih hidup, apakah saudara kandung? (Saya) saudara kandung. Apakah ada ahli waris? Ada’,” ucap pihak keluarga.
Armuji pun memanggil Ketua RT dan RW setempat untuk dimintai klarifikasi terkait peristiwa tersebut.
“Pak RT, Pak RW, Ibu ini kan usia 80 tahun, seorang perempuan, masak dianiaya seperti itu diam saja warga di sini. Kan bongkar ini butuh waktu, kan nggak boleh seperti itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, terlepas dari siapa yang benar atau salah, tindakan pengusiran dan pembongkaran rumah dinilai tidak berperikemanusiaan.
“Kita tidak melihat salah benarnya. Tapi tindakan ini tidak manusiawi, tindakan brutal. Apapun nama oknum ormas ini dikecam seluruh Indonesia,” lanjutnya.
Selanjutnya, Armuji memanggil S, orang yang disebut menyuruh pembongkaran rumah Elina. S mengklaim rumah tersebut telah dibelinya sejak 2014 dari seseorang bernama Elisa, lengkap dengan dokumen kepemilikan.
“Letter C-nya ada, jual beli-nya ada, lengkap,” katanya.
Meski begitu, Armuji menegaskan bahwa proses harus ditempuh sesuai prosedur hukum.
“Cara-cara ini brutal. Ini dikecam seluruh Indonesia. Nanti ormasnya (bisa) dikecam,” ucapnya.
S kemudian membantah telah mengerahkan ormas untuk mengusir Elina. Ia menyebut orang-orang tersebut merupakan rekan pribadinya.
“Itu teman saya sendiri, pribadi teman saya,” katanya.
